Haruskah
cinta suci nan putih ternodai? Haruskah cinta yang dibangun dengan puing kecil
perhatian dan jumputan kesetiaan yang tertabur di dalamnya hancur diterpa
badai? Akankah cinta bertahan, disaat api mulai memanasi lilin? Bagaimana
akhirnya kala lilin melebur dan hancur demi menerangi sang penakluknya? Akankah
itu semua akan berlaku?
____________________________________________
Satu
tahun bersamanya tak membuatku mengalami masa-masa penat. Berbeda dengannya,
kepenatan selalu menghantui dirinya. Diam, lalu membisu dihadapanku; seakan dia
menjadi tuna rungu dan tuna wicara. Bahkan seperti mayat hidup; dingin dan tak
berpembuluh. Tak punya hati dan perasaan.
Selama
satu minggu ia mematung. Tanpa kabar. Bagai menanti hujan di gurun pasir yang
mengalami musim kemarau. Itu aku. Tercekik, dan kehausan akan bening dan
segarnya kabar darinya. Tapi ia tetap sama; membatu disekujur tubuhnya, tak
luput hatinya. Keras.
Berhari-hari
hati tersiksa oleh rindu yang menggerayanginya. Sampai diujung peluh membanjiri
pipi, disaat itulah tangan kecilmu menghantarkan sebuah pesan dari bibir yang mulai
merekah. Ahhh, menakjubkan! Seakan terbang di hamparan perkebunan bunga
edelweis di musim semi, indah.
Seakan
tak mau bertele-tele dengan kehidupan, aku mulai membaca pesannya. Kalimatnya
sederhana, delapan buah kata penuh isyarat.
“Kita
sepertinya udah enggak sama, aku minta putusJ”
Seakan degupan jantung berhenti sejak satu
detik yang lalu karena tersengat delapan buah kata dengan tegangan ribuan volt
yang menjalar menuju relungku. Entah berbentuk apa jika hati ini ada bentuknya
dalam nyata. Lara bersama penantian itu apa-apa, bukan tidak apa-apa. Tanpa
diharapkan, hujan seakan menderas, mengalir dari sudut pipi meronaku.
Aku
membalasnya dengan munafik; bibir berkata “iya” namun hati berkata “tidak”.
Entah mengapa semunafik itu aku berlaku. Aku hanya tak ingin di cap sebagai “wanita
murahan” lalu “tak tahu diri” atau “tak tahu malu”. Siapa yang mau menyandang
predikat “wanita pengemis cinta” seseorang yang telah memaksa keluar, menyeret,
lalu menendang dalam hati lelakinya? Lebih baik sakit sedalam, selebar, dan
sekuat apapun daripada harus membawa malu, bukan?
Aku
diam bersama ribuan pertanyaan yang terngiang dalam otakku. Mengapa ia seburuk
itu? Sejahat itu bak peran antagonis dalam drama-drama klasikal yang pernah ku
lihat? Bahkan lebih keji dibanding pemeran bayaran tersebut. Entah apa yang
merasuki dirinya mungkin, seakan dia tak punya hati dan egois. Seakan hati berpindah
dalam dengkulnya, lalu dengkulnya berpindah dalam otaknya, dan otak dalam
hatinya. Tak rasional seperti matematika, tapi memang seperti itu dia, menawan
tapi menyakitkan.
____________________________________________
Selang beberapa hari setelah selesai
dengannya, aku mencoba mencari dinginnya embusan angin malam yang telah ku
lewatkan beberapa hari yang lalu sejak saat itu. Aroma kopi, teh dan susu yang
bergelayutan mengisi cafe ini. Ditemani dengan secangkir kopi yang hangat, lalu
laptop yang selalu setia di sampingku. Yah, setelah keterpurukanku kini, aku
lebih suka mengisi hariku dengan menulis.
Aku menatap disekelilingku. Mataku adalah
saksi bisu sekaligus perekam aktifitas insan disekitar. Mataku memfokuskan
ketajamanannya ketika aku mendapatinya; manusia menawan yang menyakitkan itu,
bercinta dengan semak belukar. Dan diujung meja kursi cafe yang sama. Ketika
kaki ini mulai tertuntun mendapati dirinya, seakan ada peri kecil yang berkata “Sudahlah, dia masa lalumu. Tuhan telah
mengatur semuanya, sekarang lihat kan? Dia bukan yang terbaik untukmu”.
Hidup bukan seperti fairytale yang pernah aku baca saat kecil dulu, selalu happy ending. Hidup itu keras, penuh siksa,
baik raga maupun jiwa. Tapi kini aku mengerti, semua siksa pasti ada hikmahnya.
Kekuatan Tuhan selalu ada dan menyertai hamba-Nya. Bukankah Tuhan adil, akan
menjodohkan wanita yang baik dengan lelaki yang baik juga?
Aku kembali duduk dipersinggahanku semula,
menatapi jejeran anak kalimat demi kalimat yang tersebar dilaptopku. Diam-diam,
aku memperhatikannya; mawar yang pernah mengisi hatiku sedang bercumbu mesra
dengan semak belukar di ujung cafe. Lalu kembali mengintai laptop, dan begitu
seterusnya, hingga kursi disana hampa. Lalu hilang, bersama laraku.
SELESAI
Tidak ada komentar:
Posting Komentar