Selasa, 23 Desember 2014

Dibalik Mawar

        Dinginnya pelukan mesra udara malam sepertinya menusuk dan membunuh perlahan. Angin malam menghantarkanku pada keporak-porandanya mimpiku. Tanpa diinginkan, tetes demi tetes mulai menutupi rona pipiku. Kata orang melepaskan yang telah tergenggam bukanlah hal mudah. Tapi bagaimana jika yang tergenggam itu berupa duri mawar beracun atau paku berkarat? Bagaimana jika itu membuat tak berdaya dan sekarat?
        Haruskah cinta suci nan putih ternodai? Haruskah cinta yang dibangun dengan puing kecil perhatian dan jumputan kesetiaan yang tertabur di dalamnya hancur diterpa badai? Akankah cinta bertahan, disaat api mulai memanasi lilin? Bagaimana akhirnya kala lilin melebur dan hancur demi menerangi sang penakluknya? Akankah itu semua akan berlaku?
____________________________________________
       Satu tahun bersamanya tak membuatku mengalami masa-masa penat. Berbeda dengannya, kepenatan selalu menghantui dirinya. Diam, lalu membisu dihadapanku; seakan dia menjadi tuna rungu dan tuna wicara. Bahkan seperti mayat hidup; dingin dan tak berpembuluh. Tak punya hati dan perasaan.
      Selama satu minggu ia mematung. Tanpa kabar. Bagai menanti hujan di gurun pasir yang mengalami musim kemarau. Itu aku. Tercekik, dan kehausan akan bening dan segarnya kabar darinya. Tapi ia tetap sama; membatu disekujur tubuhnya, tak luput hatinya. Keras.
      Berhari-hari hati tersiksa oleh rindu yang menggerayanginya. Sampai diujung peluh membanjiri pipi, disaat itulah tangan kecilmu menghantarkan sebuah pesan dari bibir yang mulai merekah. Ahhh, menakjubkan! Seakan terbang di hamparan perkebunan bunga edelweis di musim semi, indah.
        Seakan tak mau bertele-tele dengan kehidupan, aku mulai membaca pesannya. Kalimatnya sederhana, delapan buah kata penuh isyarat.
“Kita sepertinya udah enggak sama, aku minta putusJ
Seakan degupan jantung berhenti sejak satu detik yang lalu karena tersengat delapan buah kata dengan tegangan ribuan volt yang menjalar menuju relungku. Entah berbentuk apa jika hati ini ada bentuknya dalam nyata. Lara bersama penantian itu apa-apa, bukan tidak apa-apa. Tanpa diharapkan, hujan seakan menderas, mengalir dari sudut pipi meronaku.
      Aku membalasnya dengan munafik; bibir berkata “iya” namun hati berkata “tidak”. Entah mengapa semunafik itu aku berlaku. Aku hanya tak ingin di cap sebagai “wanita murahan” lalu “tak tahu diri” atau “tak tahu malu”. Siapa yang mau menyandang predikat “wanita pengemis cinta” seseorang yang telah memaksa keluar, menyeret, lalu menendang dalam hati lelakinya? Lebih baik sakit sedalam, selebar, dan sekuat apapun daripada harus membawa malu, bukan?
        Aku diam bersama ribuan pertanyaan yang terngiang dalam otakku. Mengapa ia seburuk itu? Sejahat itu bak peran antagonis dalam drama-drama klasikal yang pernah ku lihat? Bahkan lebih keji dibanding pemeran bayaran tersebut. Entah apa yang merasuki dirinya mungkin, seakan dia tak punya hati dan egois. Seakan hati berpindah dalam dengkulnya, lalu dengkulnya berpindah dalam otaknya, dan otak dalam hatinya. Tak rasional seperti matematika, tapi memang seperti itu dia, menawan tapi menyakitkan.
____________________________________________
Selang beberapa hari setelah selesai dengannya, aku mencoba mencari dinginnya embusan angin malam yang telah ku lewatkan beberapa hari yang lalu sejak saat itu. Aroma kopi, teh dan susu yang bergelayutan mengisi cafe ini. Ditemani dengan secangkir kopi yang hangat, lalu laptop yang selalu setia di sampingku. Yah, setelah keterpurukanku kini, aku lebih suka mengisi hariku dengan menulis.
Aku menatap disekelilingku. Mataku adalah saksi bisu sekaligus perekam aktifitas insan disekitar. Mataku memfokuskan ketajamanannya ketika aku mendapatinya; manusia menawan yang menyakitkan itu, bercinta dengan semak belukar. Dan diujung meja kursi cafe yang sama. Ketika kaki ini mulai tertuntun mendapati dirinya, seakan ada peri kecil yang berkata “Sudahlah, dia masa lalumu. Tuhan telah mengatur semuanya, sekarang lihat kan? Dia bukan yang terbaik untukmu”.
Hidup bukan seperti fairytale yang pernah aku baca saat kecil dulu, selalu happy ending. Hidup itu keras, penuh siksa, baik raga maupun jiwa. Tapi kini aku mengerti, semua siksa pasti ada hikmahnya. Kekuatan Tuhan selalu ada dan menyertai hamba-Nya. Bukankah Tuhan adil, akan menjodohkan wanita yang baik dengan lelaki yang baik juga?
Aku kembali duduk dipersinggahanku semula, menatapi jejeran anak kalimat demi kalimat yang tersebar dilaptopku. Diam-diam, aku memperhatikannya; mawar yang pernah mengisi hatiku sedang bercumbu mesra dengan semak belukar di ujung cafe. Lalu kembali mengintai laptop, dan begitu seterusnya, hingga kursi disana hampa. Lalu hilang, bersama laraku.

SELESAI

Tidak ada komentar:

Posting Komentar