Rabu, 27 Agustus 2014

Stasiun dalam Genggaman Kenangan


Matahari kini mengurung diri untuk menampakkan kilaunya. Hanya ada segelintir awan gelap ganas menyelubungi langit yang biasanya membiru. Beribu buliran air dimuntahkan dari bibir langit yang kelu. Kini, muntahan demi muntahannya semakin menggila. Tampak kerumunan zat cair berwarna cokelat pucat tercerai berai di jalanan yang terlindas oleh ribuan roda secara keji.
           Aku mengingatnya. Duduk termangu bersama seorang lelaki, menghindari kejamnya hujaman tangisan awan di kesunyian stasiun. Lalu meratapi jalinan rel yang berdesis jika dilalui gerbong-gerbong raksasa. Yah, hujan tak pernah menyurutkan kita dari kesenangan gila semacam ini.
“Kamu suka aku ajak kesini enggak yang?” tanyanya memecah dinginnya embusan angin yang dipeluk rintikan hujan.
“Suka, sayang. Selalu suka kalau kamu yang mengajak.” suara parauku terdengar bak penusuk sunyinya rel yang belum tersentuh roda lokomotif sejak tadi.
Ada sepasang mata hitam yang membulat dengan sejuta kilauan terpancar ketika tatapannya membelaiku. Lalu bibir tipis yang selalu melukis berbagai lengkung senyuman renyah. Telinga kecilnya selalu siap dengan lontaran cerita rumit yang bergelut dari sudut bibir merah muda ini. Lalu sepasang tangan khas yang lembut tak luput menggenggam, merangkul, dan memeluk.
Awan telah usai menitikkan air dipelupuk matanya. Ia kembali dengan mata membengkak kepelukan langit biru muda. Senyum tipis nan manis awan yang berwarna merekah berseri-seri. Kakunya angin bertiup terhempas oleh sengatan panas yang menjalar keras dari hulu menuju hilir.
Kaki jenjangnya perlahan menjauhiku. Entah mengapa ia bergerak menuju kerumunan gerbong yang selalu tertidur pulas. Mungkin saja ia sedang mengecek apakah gerbong itu sakit demam atau flu hebat. Atau bahkan dia akan merawatnya; menyelimuti dan menyuap makanan lalu memberinya obat. Ahh, kekasih hatinya saja tak pernah diperlakukan seistimewa itu, memangnya siapa dan apa hubungannya; gerbong lusuh berwarna cokelat yang tak berpembuluh.
Mata yang menuntun kaki ini melangkah mendekatinya. Ada sesuatu yang menggelitik relung, memanjakan hati dan membuai jiwa. Aku tak paham dengan apa yang telah membuatku linglung bak tertanam gendam atau semacamnya. Rasanya, aku bagai magnet berkutub utara dan dia adalah magnet berkutub selatan yang saling tarik menarik. Ialah sebab dari rasa mabuk yang memiringkan langkah, lalu perlahan mengganggu kinerja otakku.
Dari sudut rel kaku nan dingin terbentang, tertangkap gemerlap lampu sebuah benda yang berlarian diatas rel yang berdecak mesra. Embusan beku angin sedang bercumbu dengan bekas tangisan miris awan dihantam suara kereta yang menggelegar. Gerbong-gerbong tidur berguncang rindu dengan rel manis disisi bawahnya. 
“Yee, kereta!” ungkapnya dengan keluguan kertas putih yang belum tergores tinta manapun.
“Hore, itu kereta apa ya?”suara lantangku berusaha melawan decitan rel yang dipeluk lokomotif hijau.
         Kalimat yang terlontar dari bibir tipis nan manis menuturkan tuturan rumit serumit transformasi galileo. Nada lembut yang menjalar ke telinga, dan otak berkecamuk dengan pemahamanku. Ia merogoh saku celana, dan mengeluarkan ponsel yang setia menemaninya. Kamera itu ia condongkan menuju lokomotif yang sedang melaju, lalu terekam kereta berselancar di garis-garis ombak rel. Puluhan video yang ia simpan, dan isinya selalu saja sama; kereta. Rupanya ia amat sakau dengan benda unik yang menggelar rel tersebut.
      Yah, kini dia berubah. Dari sisi dan sudut penglihatanku, dia benar-benar berubah. Kita tak lagi seperti dulu, seperti pengagum berat lokomotif beroda entah jumlahnya berapa. Ia dengan seribu satu macam kesibukan, dan aku selalu terabaikan. Tak lagi tersisa waktu untukku, untuk kereta, bahkan untuk menyajikan padaku sekelumit kabar. 
       Jalan berbatu seakan membangunkan lamunanku tentang sepatnya masa lalu. Helaan nafas yang tertahan pada bibir kelu mampu membuyarkan ratapanku yang sembari tadi meratapi jalanan yang cukup lenggang. Tak terasa bis yang ku tumpangi telah mengantar menuju istanaku. Beberapa langkah tegapku mampu mencapai kerajaan megah dimataku. Singgasanaku adalah tempat yang senantiasa ku nanti. Dengan merebahkan diri, ku ambil ponsel dari saku rok. Bunyi tuts ponsel memecah kedinginan suasana yang amat senyap.
“Sayang, lagi apa?” tanyaku dengan harap yang meletup-letup.
Terbuang sudah satu jam, ia tetap membisu dalam Blackberry Messenger dengan seribu tanya yang mendera jiwaku. Kembali ku manjakan papan tombol yang selalu menghitam.
“Lagi bobok ya yang?”
Disini, aku masih membuang waktu untuk menanti, seperti pungguk yang merindukan bulan. Dengan seragam yang masih melekat ditubuh dan ponsel yang senantiasa terjamah olehku. Tanganku seolah tergelitik oleh relung untuk mengetik satu atau dua patah kata untuknya.
“PING!!!”
“Yang?”
Ia kembali tanpa kebisuan semata setelah penantianku yang berlangsung selama sepuluh menit.
“Aku lagi sibuk, jangan ganggu” jawab pahit sang pemilik bibir manis itu. 
       Aku tak paham dengan makna kata “sibuk” yang amat ia puja. Seringkali ia begitu; mematahkan, merobek, mencabik-cabik bahkan mengiris-iris hatiku dengan “kesibukan” dirinya hingga mengabaikan berbagai hal, membentangkan jarak, serta membagi perhatian. Setega itukah manusia menawan sepertinya? Apakah semua manusia sehebat dia selalu menyakitkan, tak punya hati dan perasaan? Rumit.
____________________________________________ 
      Malam sunyi sepi tanpa kabarnya adalah hal yang teramat biasa bagiku. Seharusnya malam ini menjelma bagai malam penuh bintang dan bulan yang menaburkan kilauan pancaran cinta dalam hubungan kita. Yah, esok hari, Minggu, 14 Desember 2003 adalah hari anniversary 2 tahun bersamanya. Bersamanya, waktu bagai roda lokomotif yang melaju kencang, dan berakhir lambat ketika melintasi masa jenuh. Secercah harap terihlami oleh Tuhan. Ponsel lalu ku gapai.
“Halo. Yang, besok sore ke stasiun yuk? Aku rindu lihat gerbong lari-lari!” kataku dengan harap yang menggebu-gebu.
“Besok? Aku sibuk, enggak bisa” bantahnya.
“Ayolah yang, sekali waktu. Aku cuman minta kamu temenin doing, ya?” pinta harapku.
“Aku gabisa, aku sibuk beneran!” nada tinggi mulai terdengar dari sudut suara disana.
“Ayo yang, plis aku mohon sama kamu. Ya?” permohonan terakhir terlontar dari hati.
“Enggak bisa!” bentaknya.
“Hmm, yasudah yang” desis kekalahan dan kesedihanku.
     Tanpa hati dia menutup telepon-ku. Sepertinya ia telah dibutakan oleh gemerlap kesibukan yang membuatnya terlena ketika menyelamnya. Seakan dia bermasa bodoh dengan apa yang sepantasnya ia perhatikan. Dan seakan aku menjelma menjadi bukan siapa-siapa atau unit terpenting dalam hidupnya.
     Air dipelupuk mata yang gerimis mulai menghujami pipi lengkungku. Perlahan tetes demi tetes mulai menderas seiring dengan awan diluar sana yang juga memuntahkan perasaannya. Aku hanyut dalam balutan luka tertancap duri beracun yang ku peluk. Sekarat rasanya. Sakit, teramat sakit. Haruskah hari bahagia ternodai oleh egomu yang semakin meluap ? Basahnya bantalku senantiasa menemani malam lelapku yang berat.
____________________________________________ 
     Ada sesuatu yang menggelitik jiwa dan menggerogoti hati yang rindu ketika sore menjelang. Rindu yang membalut kita, kenangan dan kereta. Ada saja bisikan-bisikan angan untuk mengajaknya mengkuduskan hari bahagia ini. Sepertinya itu tak kan pernah terwujud, mengingat perlakuan dingin nan keras yang ia selalu lemparkan padaku.
     Kunang-kunang sepertinya bersemayam di pikiranku. Aku tahu! Jika rindu tak berkesudahan mengerang, maka akan ku temukan sumber rindu itu. Sumber rindu terpendam adalah jutaan roda lokomotif, ratusan anak rel yang berjajar, dan puluhan gerbong tidur yang senantiasa menemani, dahulu. Langkah mantapku terpatri menuju kamar mandi untuk bergegas menjelma bak elok rupanya. Seusainya, kaki ini melangkah menjauhi singgasana dan menemukan wanita setengah baya; mama sedang menyiram tanaman.
“Ma, aku pergi dulu ya?”ucapku sembari mengenakan sepatu.
“Ehhh mau kemana nak?” tanya wanita setengah baya yang selalu cantik dimataku.
“Pergi ma, nanti kalau ada yang nyariin bilang aja aku pergi ya ma, kira-kira lama ma…” sambungku.
“Yasudah, hati-hati nak” desisnya sembari mengulurkan tangan yang khas.  Ciumanku tepat mendarat di punggung tangannya.
     Langkah gopohku sepertinya mampu meredam waktu perjalanan menuju sang kereta kenangan. Dewi fortuna sepetinya sedang berpihak padaku. Bis telah tersedia untuk mengantarkanku, tanpa ba-bi-bu aku memasukinya. Jalanan terliat lenggang, tak butuh waktu yang lama untuk sampai menuju kenanganku.
       Aku berpijak pada permukaan bumi berbatuan yang di tempelkan rel manis yang mengantri. Yah, aku telah sampai di surga kenangan; tempat mengenang dan dikenang. Dua tahun silam ia mematri janji sucinya disini, stasiun sunyi. Disaksikan pula gerbong tidur yang tak kunjung terbangun. Lalu jembatan layang yang senantiasa meramaikan suasana misteri rel.
       Ada banyak kereta yang ku tangkap sore ini, baik dengan mata maupun kamera. Decitan rindu rel mampu meredam sedikit amarahku tentang egonya yang ia pertahankan. Gerbong yang tak kunjung terbangun seringkali ku belai. Lalu pusat stasiun yang senantiasa merayakan nyepi tiap harinya.
      Mentari kini mulai meredupkan diri. Tersisa awan putih menggumpal yang melukis seberkas tangisan miris diabaikan mentari yang sibuk dengan urusannya. Untung saja senja segera memeluk sang awan dan menghiburnya sejenak. Dengan tergopoh – gopoh, aku segera kembali ke istanaku. Saat kaki bergetar untuk melangkah, saat itu juga rel membuat aku terperosok dibebatuan. Metode perabaan sepertinya efektif untuk menemukan kacamata-ku yang menghilang entah kemana. Sebuah frekuensi suara samar yang tak jelas kemudian tertangkap oleh kedua telinga rumitku. Aku enggan untuk memfokuskan diri dengan suara-suara yang bergelut dengan desiran angin.
     Tuhan menuntun tanganku untuk menggali kacamata-ku. Dan benar saja, tangan tuntunan malaikat yang diutus Tuhan mampu mengembalikan kacamata-ku. Ketika aku menggapai dan mengenakannya, mataku seakan menangkap sesuatu sedang mengintaiku. Sesuatu yang amat ku puja dan ku banggakan. Sesuatu yang senantiasa ternantikan olehku. Dan kini ia berdiri tepat 5 jengkal di mataku. Kereta.
    Aku membiaskan gemerlap senyum terhadapnya, membiaskan senyum terakhirku untuknya disenja bahagia. Dan senyum terakhirku untuk selamanya.

SELESAI