Minggu, 01 Juni 2014

Penantian

Entah dimana, dirimu berada
Hampa terasa hidupku tanpa dirimu
Akankah disana kau rindukan aku
Seperti diriku yang selalu merindukanmu, selalu merindukanmu.
(Hampa - Ari Lasso)

          Disudut ruang kamarku mendengar jelas lagu yang ku putar, Hampa. Teringat akan sebuah keajaiban yang diciptakan Tuhan yang terlalu manis dan hampir sempurna, bagiku. Manusia dengan seribu satu daya tariknya yang menawan dan memikat hati. Dengan postur tubuh yang menjulang tinggi, kurus, raut wajah menawan, mata belo dan hidung bangir, serta pipi tirus dan rambut berantakan.
          Setiap aku tak sengaja mengalihkan pandanganku padanya, terasa ada sesuatu yang menggelitik dalam dada yang sulit dijelaskan. Mungkin suka, ahh tidak ini rasanya terlalu cepat, berkenalan saja baru beberapa bulan, fikirku. Tertarik? Yah mungkin, mungkin saja dia punya pelet penakluk wanita agar tertarik padanya, atau menggunakan susuk agar wajahnya makin menawan, ahh entah lah namanya, yang jelas dia punya daya tarik tersendiri bagiku. Karena setiap aku mengalihkan pandanganku padanya, ingin rasanya semakin sering dan sering. Semakin sering aku sibuk memperhatikannya, semakin sering pula dia menangkap manusia yang diam-diam mencuri pandang terhadapnya; aku.
          Manis memang, ketika mengingat masa-masa itu. Masa ketika saling berjalan, berbicara hal tak penting, mengejek, bahkan berlarian bak anak kecil yang tak mempunyai beban. Lalu saling bertatap mata, dalam, sangat dalam. Hingga aku tak tau dimana keberadaanku. Ahh, mungkin saja hatinya.
          Hatinya? Apa? Tidak, tidak. Rasanya aku amnesia, hingga salah persepsi seperti ini. Salah besar!  Tak mungkin, mustahil. Aku bagaikan sebutir debu yang melekat pada dirinya, yang mudah untuk dibersihkan. Aku berusaha sadar.
          Tapi mengapa ia selalu bersikap lembut dan manis padaku? Mengapa dia selalu memperhatikanku dengan memberi ucapan “selamat malam” atau sekedar basa-basi menanyakan sedang apa atau bahkan bertanya “sudah makan?”. Atau memberiku cokelat ketika perayaan valentine dan membawakanku tart ketika aku sedang berulang tahun dan bahkan mengajakku bertemu ketika Tuhan telah memisahkan kita selama satu tahun ditempat yang berbeda dan tanpa komunikasi.
          Sedih teramat dalam rasanya, ketika cinta datang disaat yang tidak tepat, terlambat. Disaat ia akan pergi, jauh entah kemana. Mengapa waktu selalu salah? Mengapa disaat terasa nyaman ia harus pergi, mengapa tidak dari awal saja? Duh, Tuhan. Mungkin ini pilihan yang terbaik dari pencipta-Nya. Sabar.
          Setahun, waktu yang terlihat lama tapi cukup singkat, dan panjang untuk sebuah penantian yang tak tahu apakah akan  berujung atau tidak. Keyakinanku sangat amat kuat bahwa dia akan kembali segera mungkin.
          Hari berganti bulan, dan bulan berganti tahun. Ketika itu ia menghubungi diriku dengan sebuah pesan singkat, rasanya terbang, terbang tinggi melintasi taman bunga edelweiss yang indah, berbau semerbak wewangian; bau bahagia. Lalu aku berusaha mengketik kalimat balasan pesan singkatnya perlahan, satu demi satu, takut akan salah bicara ataupun typo. Aku tak ingin mengacaukan semua ini.
          Kita kembali seperti dahulu, saling mengirim pesan singkat. Ia bercerita cukup banyak, menghibur setidaknya. Setelah penantian cukup panjang itu. Aku berfikir untuk yakin semua ini, semua penantian dan pengorbanan itu tidak akan pernah sia-sia.
          Tapi keyakinanku itu tidak tepat. Aku salah. Teramat salah. Hancur rasanya ketika mengetahui seseorang yang sangat kita cintai ternyata hanya ingin diperjuangkan, bukan berjuang bersama-sama, dan ia telah dimiliki seorang gadis nan jauh disana. Hati telah mati rasa.
          Setega itukah manusia menawan sepertinya? Sejahat itukan dia, meninggikan diriku setinggi-tingginya lalu menghempaskanku tanpa iba. Dimana letak hatinya? Apakah semua manusia sehebat dia selalu menyakitkan, tak punya hati dan perasaan? Apakah dia amnesia? Tak ingat dengan perlakuan manis yang ia berikan, lalu perhatian tulus yang ia tunjukkan padaku.
          Sadar, aku harus sadar! Ia bukan siapa-siapa atau bagian dan unit terpenting dalam hidupku! Aku rasa aku tak dibutuhkannya, atau mungkin tak diinginkan! Yah, mungkin memang harusnya tidak memikirkannya, memikiran kenangan manis yang menyayat hati. Sia-sia.
          Malam ini rasanya cukup panjang berlalu, dengan keadaan setengah sadar dari  mimpi masa laluku. Aku berusaha bangun dari tidur panjangku yang lelap, dan harus siap menghadapi kenyataan bahwa aku bukan bahagia yang dia cari.


Cari yang ingin berjuang bersama, bukan hanya yang ingin diperjuangkan.”

2 komentar: