Kamis, 30 Oktober 2014

Gempita Semak Belukar

Malam panjang nan sunyi. Ahh, rasanya selalu saja sedemikian rupa. Malam menghabiskan waktu untuk menceritakanmu. Cinta berkobar-kobar layaknya si jago merah yang merayap habis segalanya. Namun jago merah tak selalu menyala, dan ia akan padam. Yah, padam.
Tak terkecuali dua suku kata yang memiliki jutaan makna (baca: cinta).  Percikannya menjadi awal perjalanan panjangnya. Setelah padam, ada sepasang mata sembab yang meratap penuh penyesalan. Aku adalah salah satunya.
Pemilik mata hitam bulat itu tak sadar, berulang kali menghantam perasaan rapuh. Selalu saja asyik dengan kegiatannya. Berhari-hari dengan berpuluh semak belukar yang selalu membungkam dan menatap sinis kearahku. Ia justru mendekati semak belukar yang terus menatapku dengan pandangan masam. Semak belukar itu semakin menggila dan tak tahu diri. Menggoda genit sang mata hitam bulatku.
Aku tak paham dengan perasaan yang bergelut di dada. Yang terasa hanya perih bak duri semak belukar menancap perasaan rapuh dengan gemparnya. Menyakitkan. Tetapi pemilik mata hitam itu tidak tahu seretak apa perasaan ini. Dia selalu bermasa bodoh denganku dan dengan apa yang terucap dari bibirku, dia terus saja memperhatikan para semak belukar.
Bukankah aku adalah insan istimewanya? Bukankah aku dan dia telah berubah menjadi “kita”? Lalu mengapa ia tak mengawasi perasaannya, malah justru membiarkan saja semak-semak belukar mengelilinginya? Sementara perasaanku selalu saja ia awasi. Tak adil.
Panas. Telingaku cukup panas dan muak mendengar celotehan berbau semak belukar dari pemilik mata hitam bulat itu. Aku tak habis pikir, apa yang telah membuat cintanya berubah. Dan lama kelamaan padam. Sementara itu, aku pantang menyerah mengobarkan dan membesarkan cinta didalamnya. Menahan kobaran cinta agar tak padam. Apakah ini sia-sia?
Sepertinya iya. Sangat sia-sia. Cintanya telah padam untukku. Ia tak pernah membelai cinta itu, dia sibuk dengan para semak belukarnya. Menghabiskan waktu berpuluh-puluh jam dengannya, dan tak pernah tersisa untukku. Aku bagai patung, tak dianggap, tak berharga, dan selalu diacuhkan.
Semak belukar telah mengubahnya. Mengubah kehidupannya yang sederhana menjadi gemerlap. Mengubah cintanya, bahkan memadamkan kobarannya. Pengganggu.
Ahh sudahlah. Persetan dengan mereka semua. Aku cukup muak. Sangat bahkan. Biarkan saja mereka bermain ria, kini aku tak peduli. Biarkan saja pemilik mata hitam bulat itu bangun sendiri dari mimpinya yang salah. Aku cukup lelah membangunkannya. Dan biarkan saja para semak belukar terhantam oleh semak belukar lain. Karma masih berlaku, dan akan terus berlaku. Entah sampai kapan.
Jam berdentang pukul 22.00 WIB, waktu yang tepat untuk terlelap dan menghela panjang nafas didada yang penuh berisi gempita para semak belukar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar