Malam panjang nan sunyi. Ahh, rasanya selalu saja sedemikian rupa. Malam
menghabiskan waktu untuk menceritakanmu. Cinta berkobar-kobar layaknya si jago
merah yang merayap habis segalanya. Namun jago merah tak selalu menyala, dan ia
akan padam. Yah, padam.
Tak terkecuali dua suku kata yang memiliki jutaan makna (baca:
cinta). Percikannya menjadi awal
perjalanan panjangnya. Setelah padam, ada sepasang mata sembab yang meratap
penuh penyesalan. Aku adalah salah satunya.
Pemilik mata hitam bulat itu tak sadar, berulang kali menghantam
perasaan rapuh. Selalu saja asyik dengan kegiatannya. Berhari-hari dengan
berpuluh semak belukar yang selalu membungkam dan menatap sinis kearahku. Ia
justru mendekati semak belukar yang terus menatapku dengan pandangan masam.
Semak belukar itu semakin menggila dan tak tahu diri. Menggoda genit sang mata
hitam bulatku.
Aku tak paham dengan perasaan yang bergelut di dada. Yang terasa hanya
perih bak duri semak belukar menancap perasaan rapuh dengan gemparnya. Menyakitkan.
Tetapi pemilik mata hitam itu tidak tahu seretak apa perasaan ini. Dia selalu
bermasa bodoh denganku dan dengan apa yang terucap dari bibirku, dia terus saja
memperhatikan para semak belukar.
Bukankah aku adalah insan istimewanya? Bukankah aku dan dia telah
berubah menjadi “kita”? Lalu mengapa ia tak mengawasi perasaannya, malah justru
membiarkan saja semak-semak belukar mengelilinginya? Sementara perasaanku
selalu saja ia awasi. Tak adil.
Panas. Telingaku cukup panas dan muak mendengar celotehan berbau semak
belukar dari pemilik mata hitam bulat itu. Aku tak habis pikir, apa yang telah
membuat cintanya berubah. Dan lama kelamaan padam. Sementara itu, aku pantang
menyerah mengobarkan dan membesarkan cinta didalamnya. Menahan kobaran cinta
agar tak padam. Apakah ini sia-sia?
Sepertinya iya. Sangat sia-sia. Cintanya telah padam untukku. Ia tak
pernah membelai cinta itu, dia sibuk dengan para semak belukarnya. Menghabiskan
waktu berpuluh-puluh jam dengannya, dan tak pernah tersisa untukku. Aku bagai
patung, tak dianggap, tak berharga, dan selalu diacuhkan.
Semak belukar telah mengubahnya. Mengubah kehidupannya yang sederhana
menjadi gemerlap. Mengubah cintanya, bahkan memadamkan kobarannya. Pengganggu.
Ahh sudahlah. Persetan dengan mereka semua. Aku cukup muak. Sangat
bahkan. Biarkan saja mereka bermain ria, kini aku tak peduli. Biarkan saja
pemilik mata hitam bulat itu bangun sendiri dari mimpinya yang salah. Aku cukup
lelah membangunkannya. Dan biarkan saja para semak belukar terhantam oleh semak
belukar lain. Karma masih berlaku, dan akan terus berlaku. Entah sampai kapan.
Jam berdentang pukul 22.00 WIB, waktu yang tepat untuk terlelap dan
menghela panjang nafas didada yang penuh berisi gempita para semak belukar.