Pagi ini seperti pagi-pagi dahulu.
Terbangun dari mimpi terhebat dan beranjak dari tempat persinggahanku malam
tadi. Dengan mata seadanya, ku lihat disudut meja tergeletak ponselku, dan aku
berusaha meraih lalu melihatnya, dan tak tampak satupun message ataupun pemberitahuan disana. Aku menghela nafas. Ku
letakkan ponselku disebelah tempat tidur, lalu mengadahkan tanganku, menyebut
namamu dalam percakapan panjangku pada Tuhan. Berharap agar engkau sadar akan
posisiku selama ini, sebagai seorang kekasihmu. Apa kataku? Seorang? Aku tak
yakin dengan kata “seorang kekasih”, aku tak tahu apakah kau menjadikan aku
satu-satunya seperti yang ku lakukan padamu.
Yah,
kau berubah. Dari sisi dan sudut penglihatanku, kau benar-benar berubah. Tak
sama lagi. Mengabaikan berbagai hal, membentangkan jarak, serta membagi
perhatian, seperti siksa yang mematahkan, merobek, mencabik-cabik bahkan
mengiris-iris hatiku. Sadarkah engkau akan semua itu?
Bodoh! Aku memang bodoh!
Bodoh untuk mengemis perhatian dari seorang kekasih yang mengabaikanku. Seorang
kekasih tak akan pernah membuat sang kekasih mengemis, memunguti, serta mengais
perhatian padanya. Tapi mengapa ini tidak berlaku kepadamu? Apa kau cukup
bermasa bodoh denganku? Tak peka, yah kau tak peka.
Menomer satukanmu
sepertinya membuatku cukup terluka. Yah disaat pengabaian itu muncul, apakah
aku harus menahan rasa keegoisan harga diriku untuk tidak menyapamu? Tapi
bukankah lelaki yang terlebih dahulu memulai? Tuhan mungkin sedang menguji
kesabaranku menunggu sapamu. Ahh tapi sampai kapan?
Cukup! Kini aku
sekarat! Aku tak tahan dengan pembodohan harga diri untuk tidak menyapa
terlebih dahulu. Aku harus menyapanya! Ahh, aku memutar otak untuk berfikir
ulang. Bagaimana jika sapaanku diabaikan? Bagaimana jika ia tak menyukai
kehadiranku? Tapi bukankah aku kekasihnya, apakah setega itu dia; akan mengabaikan
dan membenci kehadiranku? Oh aku baru ingat sekarang, bukankah kehadiranku
selalu ia abaikan dan aku sangat muak?
Aku mengingatnya,
setiap detail demi detail. Dahulu, usahamu yang untuk ada disisiku, usahamu
yang selalu memprioritaskanku, dan usaha-usaha lain yang sangat membuatku
terkesan. Tapi mengapa usaha-usaha itu kini tenggelam dan nyaris tak tampak?
Permainan macam apakah ini; yang tega membiarkan seorang kekasih hidup
berdampingan bersama pengabaian?
Ahh, sudahlah. Aku menyerah. Biarkan saja dia dengan
seribu macam kesibukannya, dengan bermacam bentuk pengabaiannya. Aku terlalu
bosan untuk diabaikan. Aku terlalu lelah untuk mengharapkan dirimu mengerti
kondisiku ketika kau abaikan. Dan aku terlalu yakin terhadap dirimu.
Tuhan tidak
pernah tidur dan buta, diri-Nya akan melihat mana yang pantas dan mana yang
tidak pantas untuk disandingkan. Aku akan tetap mendoakanmu yang terbaik, walaupun
dengan kenyataan yang sama aku tidak mendapatkan yang terbaik; pengabaian dan menomer
sekiankan.
Helaan nafas terdengar disudut ruang kamarku, dentuman
jam terdengar menunjukkan pukul enam telah membuyarkanku dari permainan gila
bernama pengabaian seorang kekasih hati.
“Pilihlah dia yang mencintai
dan mengutamakanmu, daripada dia yang kau cintai tapi menjadikanmu pengemis
perhatian.”
wanita yang baik tidak akan menjadikan dirinya sebagai pengemis perhatian mah mbak hana :)
BalasHapuspria yang baik juga tidak akan menjadikan wanitanya sebagai pengemis perhatian mbak noza, dia akan menempatkan dirinya sebagai seorang kekasih, yang perhatian, yang selalu ada meskipun tak selamanya ada:)
BalasHapusKlo sebaliknya gmna...?
BalasHapus