Entah dimana, dirimu
berada
Hampa terasa hidupku
tanpa dirimu
Akankah disana kau
rindukan aku
Seperti diriku yang
selalu merindukanmu, selalu merindukanmu.
(Hampa - Ari Lasso)
(Hampa - Ari Lasso)
Disudut
ruang kamarku mendengar jelas lagu yang ku putar, Hampa. Teringat akan sebuah
keajaiban yang diciptakan Tuhan yang terlalu manis dan hampir sempurna, bagiku.
Manusia dengan seribu satu daya tariknya yang menawan dan memikat hati. Dengan
postur tubuh yang menjulang tinggi, kurus, raut wajah menawan, mata belo dan
hidung bangir, serta pipi tirus dan rambut berantakan.
Setiap
aku tak sengaja mengalihkan pandanganku padanya, terasa ada sesuatu yang
menggelitik dalam dada yang sulit dijelaskan. Mungkin suka, ahh tidak ini
rasanya terlalu cepat, berkenalan saja baru beberapa bulan, fikirku. Tertarik?
Yah mungkin, mungkin saja dia punya pelet penakluk wanita agar tertarik
padanya, atau menggunakan susuk agar wajahnya makin menawan, ahh entah lah
namanya, yang jelas dia punya daya tarik tersendiri bagiku. Karena setiap aku
mengalihkan pandanganku padanya, ingin rasanya semakin sering dan sering.
Semakin sering aku sibuk memperhatikannya, semakin sering pula dia menangkap
manusia yang diam-diam mencuri pandang terhadapnya; aku.
Manis
memang, ketika mengingat masa-masa itu. Masa ketika saling berjalan, berbicara
hal tak penting, mengejek, bahkan berlarian bak anak kecil yang tak mempunyai
beban. Lalu saling bertatap mata, dalam, sangat dalam. Hingga aku tak tau
dimana keberadaanku. Ahh, mungkin saja hatinya.
Hatinya?
Apa? Tidak, tidak. Rasanya aku amnesia, hingga salah persepsi seperti ini.
Salah besar! Tak mungkin, mustahil. Aku
bagaikan sebutir debu yang melekat pada dirinya, yang mudah untuk dibersihkan.
Aku berusaha sadar.
Tapi
mengapa ia selalu bersikap lembut dan manis padaku? Mengapa dia selalu
memperhatikanku dengan memberi ucapan “selamat malam” atau sekedar basa-basi
menanyakan sedang apa atau bahkan bertanya “sudah makan?”. Atau memberiku
cokelat ketika perayaan valentine dan
membawakanku tart ketika aku sedang
berulang tahun dan bahkan mengajakku bertemu ketika Tuhan telah memisahkan kita
selama satu tahun ditempat yang berbeda dan tanpa komunikasi.
Sedih
teramat dalam rasanya, ketika cinta datang disaat yang tidak tepat, terlambat.
Disaat ia akan pergi, jauh entah kemana. Mengapa waktu selalu salah? Mengapa
disaat terasa nyaman ia harus pergi, mengapa tidak dari awal saja? Duh, Tuhan.
Mungkin ini pilihan yang terbaik dari pencipta-Nya. Sabar.
Setahun,
waktu yang terlihat lama tapi cukup singkat, dan panjang untuk sebuah penantian
yang tak tahu apakah akan berujung atau
tidak. Keyakinanku sangat amat kuat bahwa dia akan kembali segera mungkin.
Hari
berganti bulan, dan bulan berganti tahun. Ketika itu ia menghubungi diriku
dengan sebuah pesan singkat, rasanya terbang, terbang tinggi melintasi taman
bunga edelweiss yang indah, berbau semerbak wewangian; bau bahagia. Lalu aku
berusaha mengketik kalimat balasan pesan singkatnya perlahan, satu demi satu,
takut akan salah bicara ataupun typo.
Aku tak ingin mengacaukan semua ini.
Kita
kembali seperti dahulu, saling mengirim pesan singkat. Ia bercerita cukup
banyak, menghibur setidaknya. Setelah penantian cukup panjang itu. Aku berfikir
untuk yakin semua ini, semua penantian dan pengorbanan itu tidak akan pernah
sia-sia.
Tapi
keyakinanku itu tidak tepat. Aku salah. Teramat salah. Hancur rasanya ketika
mengetahui seseorang yang sangat kita cintai ternyata hanya ingin
diperjuangkan, bukan berjuang bersama-sama, dan ia telah dimiliki seorang gadis
nan jauh disana. Hati telah mati rasa.
Setega
itukah manusia menawan sepertinya? Sejahat itukan dia, meninggikan diriku
setinggi-tingginya lalu menghempaskanku tanpa iba. Dimana letak hatinya? Apakah
semua manusia sehebat dia selalu menyakitkan, tak punya hati dan perasaan?
Apakah dia amnesia? Tak ingat dengan perlakuan manis yang ia berikan, lalu
perhatian tulus yang ia tunjukkan padaku.
Sadar,
aku harus sadar! Ia bukan siapa-siapa atau bagian dan unit terpenting dalam
hidupku! Aku rasa aku tak dibutuhkannya, atau mungkin tak diinginkan! Yah,
mungkin memang harusnya tidak memikirkannya, memikiran kenangan manis yang
menyayat hati. Sia-sia.
Malam
ini rasanya cukup panjang berlalu, dengan keadaan setengah sadar dari mimpi masa laluku. Aku berusaha bangun dari
tidur panjangku yang lelap, dan harus siap menghadapi kenyataan bahwa aku bukan
bahagia yang dia cari.
“ Cari
yang ingin berjuang bersama, bukan hanya yang ingin diperjuangkan.”