Rabu, 16 Juli 2014

Ini Tentang Kita

Ini tentang kita, bukan tentang keluarga, teman, atau bahkan orang lain. Ini tentang kita, bukan cerita fiksi seperti dongeng Cinderella dan novel-novel Teenlit semata. Ini tentang kita, tentang seorang adam dan hawa yang saling berlari, mencari dan dicari, lalu pada akhirnya bertemu. Ini tentang kita, tentang seorang anak manusia yang telah bertemu dengan tulang rusuknya diantara jutaan tulang rusuk yang ada. Ini tentang kita…
            Semuanya selalu berawal dari pertemuan, bahkan cinta. Aku bertemu denganmu, ketika kami duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA). Semua terlihat dan terasa biasa pada awalnya ; semester pertama. Teman biasa, yah memang teman biasa. Di masa itu, ketika hati masih terbalut luka dan perih, ketika itu juga aku takut ; takut untuk kembali membuka hati, takut terabaikan untuk kedua kali.
            Beberapa bulan kemudian, entah hati ini kembali terbalut luka dengan bualan janji-janji manis yang tak terhitung jumlahnya. Entah ini sudah ke sekian kalinya ia merusak, mematahkan, mencabik-cabik, bahkan mengiris-iris hatiku yang berisi tentangnya. Aku menyerah, rasanya perjuanganku harus berakhir. Aku lelah, dan rasanya aku hampa.
 Kehampaanku adalah celah yang kamu manfaatkan dengan cukup baik. Kehadiranmu sepertinya memang tepat. Dari percakapan di BBM tentang tugas, pr, bahkan ulangan sukses membuatku jatuh cinta diam-diam. Diam-diam pula aku memperhatikanmu, dari sudut yang kamu takkan pernah ketahui. Dari mengintip twitter dan facebookmu, membaca tweet dan status-mu, bahkan melihat foto-fotomu yang terpampang di facebook.
Terima kasih moodbooster buat soal ekonominya hehe :3
Ahh moodbooster tuu :3
Ada suatu hipotesis yang dapat aku petik dari beberapa tweet-mu, aku rasa kamu merasakan hal abstrak yang juga aku rasakan ; cinta. Tapi aku masih ragu, dan tak sepenuhnya yakin dengan hipotesisku. Akan tetapi aku harus bereksperimen dan membuktikan hipotesisku. Yah, harus.
            Satu bulan berlalu, hipotesisku kini menemui titik terang. Perhatian dan perlakuanmu kepadaku yang berlebihan memberiku petunjuk. Dari yang biasanya cuek, lalu berubah perhatian. Dari yang biasanya pendiam, lalu berubah cerewet. Indah.
            Dan hipotesisku kini hampir seutuhnya berubah menjadi suatu kesimpulan. Ketika sebuah tugas dari sebuah mata pelajaran yang mengharuskan berkelompok dan membuat video musikalisasi puisi, tanpa ba-bi-bu lagi aku langsung merekrutmu sebelum yang lain mendahului. Dari awal, menurutku, kamulah satu-satunya anggota paling bersemangat dengan ide yang menggebu-gebu, entah karena kamu menyukai tugas ini atau mungkin menyukai kehadiranku sebagai patner kerjamu. Kehadiranku? Bagaimana mungkin? Ahh itu hanya fatamorgana-ku semata.
            Menurutku, tugas ini cukup banyak menyita waktu; waktu untuk kita berduaan. Dari yang mulanya pergi mengambil adegan baca puisi di sebuah pantai, dan merasakan pertama kali boncengan denganmu. Dag-dig-dug. Salah tingkah. Gugup. Ahh, lengkap rasanya.
Yang kedua, ketika rekaman baca puisi, aku berangkat dengan menerjang hujan, berharap sesampai di rumah temanku tidak hujan kembali, mengingat jarak rumahku dengan temanku cukup jauh, mungkin saja berbeda. Sesampaiku dirumahnya, aku mendapati kenyataan bahwa temanku sedang keluar untuk menyelesaikan beberapa urusan. Menunggu, aku sabar untuk menanti. Walaupun dalam kenyataan yang sebenarnya aku tak pernah bisa menunggu. Seperti menunggu kepastian akan dirinya.
Bel motormu mampu membuyarkan segala lamunanku yang berisi masa lalu. Kulihat bibirmu yang tipis melengkungkan seberkas senyuman hangat kepadaku. Langkahan kakimu mendekat, senada dengan degupan jantungku yang berdetak tak karuan. Perbincangan kita dimulai dengan ucapan hai yang terlontar dari bibirku yang teramat sekarat ingin selalu menyapamu.
Temanku telah selesai dari urusannya dan telah kembali ke rumahnya; dan ini artinya waktu berdua dengannya telah usai, dan berganti dengan waktu menyelesaikan tugas. Kamu lagi lagi membuat jantung ini tak hentinya berdegup kencang. Ketika rekaman, kamu berada disisiku untuk duduk, dekat, teramat dekat, hingga tak ada jarak terbentang diantara kita. Tuntutan tugas, han ; batinku. Lalu aku diam-diam memperhatikanmu ketika kamu merekam suara temanku, dan aku mendapati posisimu yang tidak sedekat denganku tadi. Mungkinkah ini salah satu modus-mu? Aku mendengus kecil.
Sepertinya langit kembali tidak bersahabat denganku ; hujan kembali ; disaat waktunya kembali ke rumah masing-masing. Dan disaat itu pula, kamu dengan indahnya bersedia mengantarkanku pulang; maksudku mengantarkanku sampai pemberhentian angkutan. Jas hujan yang kamu kenakan tak cukup untuk menutupiku dari hujan yang melanda sore itu. Bahkan untuk menutupi seluruh kepalaku saja tak mampu ; kecuali jika posisiku mendekat bahkan menempel denganmu. Ahh, aku bukan siapa-siapamu. Aku tak mungkin berbuat selancang itu. Sudahlah, aku tetap menikmati masa ini, menikmati dinginnya hujan yang menusuk tulang bersamamu. Walaupun dalam kenyataan yang sebenarnya, hanya aku yang merasakan tetesan hujan yang menghujam ini.
            Setelah tugas musikalisasi tersebut terselesaikan, kamu lebih sering menghubungiku, memberiku  perhatian lebih, hingga menunjukkan berbagai sikapmu yang teramat manis kepadaku. Beberapa kata yang tersirat didalam percakapanmu adalah kesimpulan terselubung yang menguatkan hipotesisku sebelumnya.
            -Kamu juga merasakan seperti yang ku rasakan, hal abstrak yang membelenggu dan mengikat hati bernama cinta-
            Kita menjalin hubungan satu tingkat lebih tinggi dari teman ataupun sahabat. Special, yah teman special. Saling mengenal dan memahami. Beberapa usaha pendekatanmu seperti mengajakku nonton ataupun lunch sukses membuatku makin menikmati kebersamaan ku denganmu. Karenamu, aku semakin yakin dan tak takut lagi untuk jatuh cinta. Dan denganmu, aku yakin luka di masa lalu akan terobati oleh kehadiranmu yang mengisi hari-hari kelamku selama ini.
            Dan pada tanggal 8 September 2013 ; malam harinya ; dengan tiba-tiba kamu menelfonku. Disudut sana terdengar jelas pertanyaan dari bibir manismu yang selama ini selalu ku nantikan.
            Han, kamu mau enggak jadi pacarku?
            Rasa-rasanya aku baru bangun dari mimpi panjangku selama ini. Cubitan lenganku terasa amat sakit menandakan aku sedang tidak bermimpi. Inilah kenyataannya. Dengan gugup karena teramat senang, aku menjawab iya perlahan. Dan mulai detik itulah, suatu hubungan percintaan dimulai, hingga kini, dan untuk selamanya.
            Ini tentang kita, tentang seberapa tangguh kita berjuang. Tentang seberapa lama kita berdekatan. Tentang seberapa kuat kita bertahan. Dan tentang seberapa hebat kita memahami. Ini tentang kita, tentang aku, tentang kamu, dan tentang kebersamaanku denganmu, Aridya Wicaksono.

Selesai

Beda.

Kamu bagai sebongkah berlian yang berharga dan aku adalah sejumput pasir tak bernilai dan tak berguna, untuk mendirikan sebuah bangunan saja tak mampu. Kamu lebih berharga dari apapun, siapapun, dan sekalipun diriku; menurut diriku dan mataku.
Kita dilahirkan berbeda, dan diciptakan tak sama. Aku sadar. Derajat kita berbeda, aku hanyalah orang sederhana yang lahir dari keluarga biasa-biasa saja. Sedangkan kamu? Orang serba ada yang hidup diantara kemewahan dunia. Kehidupan kita berbeda, aku didasar jurang paling dalam dan kamu di atas langit sana. Wujud kita berbeda, kamu dengan elok rupawan sedangkan aku buruk dan sejelek kutu. Begitu juga dengan kehebatan kita, berbeda. Kamu dengan seribu satu kehebatan, dan aku? Ahh siapa diriku? Apa hebatnya diriku? Ahh tidak, aku bukan orang hebat sepertimu. Tapi bolehkah kita bersama?
Tapi bukankah cinta tidak memandang dari mana kamu berasal, berwujud apa engkau, dan seberapa hebatnya kamu? Apa semua cinta seperti itu? Ahh rasanya tidak. Tapi siapa aku; bisa-bisanya menilai hal rumit yang berumus bernama cinta itu?
Ahh sudahlah, tak ada gunanya aku berkutat dengan permainan hati bernama cinta. Tapi jika tak terjerumus dalam cinta, apakah akan ada jawaban dari pertanyaanku tentang perbedaan diantara kedua insan? Apakah jawaban tersebut akan menemuiku sendiri tanpa dicari? Tidak, sepertinya tidak.
Lalu aku harus bagaimana? Membiarkan sebuah cinta tumbuh bersemi, dan mengabaikan perbedaan? Tapi bukankah jika aku bersanding dengannya, perbedaan itu akan muncul dengan jelas dan membuatku terlihat bodoh atau sangat tolol? Atau aku mundur saja dan mengalah atau menyerah dari segala takdir berbeda yang muncul? Ahh tidak, aku tak boleh berhenti sampai disini, aku harus memperjuangkannya, tak perduli seburuk, dan sebodoh apapun aku terlihat. Yang pasti; aku mencintainya.
Tapi cinta bisa apa? Apakah cinta dapat menghilangkan perbedaan diantara kita dan menyamakan segala sisi dari kita? Aku rasa tidak. Cinta hanya bisa menyatukan kita, kita yang terlihat sangat berbeda; yah beda (titik).
Mungkin perbedaan harus mengakhiri segala keindahan suci diantara kita yang bernama cinta ini. Karena bagiku, dan aku sadar; kamu yang semahal berlian itu tidak layak jika disandingkan dengan sejumput pasir tak berguna sepertiku. Kamu lebih pantas jika disandingkan dengan sesuatu yang senilai denganmu; dan yang pasti bukan denganku.

Haruskah ada salah satu dari kita yang mengemis perhatian?


     Pagi ini seperti pagi-pagi dahulu. Terbangun dari mimpi terhebat dan beranjak dari tempat persinggahanku malam tadi. Dengan mata seadanya, ku lihat disudut meja tergeletak ponselku, dan aku berusaha meraih lalu melihatnya, dan tak tampak satupun message ataupun pemberitahuan disana. Aku menghela nafas. Ku letakkan ponselku disebelah tempat tidur, lalu mengadahkan tanganku, menyebut namamu dalam percakapan panjangku pada Tuhan. Berharap agar engkau sadar akan posisiku selama ini, sebagai seorang kekasihmu. Apa kataku? Seorang? Aku tak yakin dengan kata “seorang kekasih”, aku tak tahu apakah kau menjadikan aku satu-satunya seperti yang ku lakukan padamu.

       Yah, kau berubah. Dari sisi dan sudut penglihatanku, kau benar-benar berubah. Tak sama lagi. Mengabaikan berbagai hal, membentangkan jarak, serta membagi perhatian, seperti siksa yang mematahkan, merobek, mencabik-cabik bahkan mengiris-iris hatiku. Sadarkah engkau akan semua itu?
     Bodoh! Aku memang bodoh! Bodoh untuk mengemis perhatian dari seorang kekasih yang mengabaikanku. Seorang kekasih tak akan pernah membuat sang kekasih mengemis, memunguti, serta mengais perhatian padanya. Tapi mengapa ini tidak berlaku kepadamu? Apa kau cukup bermasa bodoh denganku? Tak peka, yah kau tak peka.
Menomer satukanmu sepertinya membuatku cukup terluka. Yah disaat pengabaian itu muncul, apakah aku harus menahan rasa keegoisan harga diriku untuk tidak menyapamu? Tapi bukankah lelaki yang terlebih dahulu memulai? Tuhan mungkin sedang menguji kesabaranku menunggu sapamu. Ahh tapi sampai kapan?
Cukup! Kini aku sekarat! Aku tak tahan dengan pembodohan harga diri untuk tidak menyapa terlebih dahulu. Aku harus menyapanya! Ahh, aku memutar otak untuk berfikir ulang. Bagaimana jika sapaanku diabaikan? Bagaimana jika ia tak menyukai kehadiranku? Tapi bukankah aku kekasihnya, apakah setega itu dia; akan mengabaikan dan membenci kehadiranku? Oh aku baru ingat sekarang, bukankah kehadiranku selalu ia abaikan dan aku sangat muak?
Aku mengingatnya, setiap detail demi detail. Dahulu, usahamu yang untuk ada disisiku, usahamu yang selalu memprioritaskanku, dan usaha-usaha lain yang sangat membuatku terkesan. Tapi mengapa usaha-usaha itu kini tenggelam dan nyaris tak tampak? Permainan macam apakah ini; yang tega membiarkan seorang kekasih hidup berdampingan bersama pengabaian?
        Ahh, sudahlah. Aku menyerah. Biarkan saja dia dengan seribu macam kesibukannya, dengan bermacam bentuk pengabaiannya. Aku terlalu bosan untuk diabaikan. Aku terlalu lelah untuk mengharapkan dirimu mengerti kondisiku ketika kau abaikan. Dan aku terlalu yakin terhadap dirimu.
Tuhan tidak pernah tidur dan buta, diri-Nya akan melihat mana yang pantas dan mana yang tidak pantas untuk disandingkan. Aku akan tetap mendoakanmu yang terbaik, walaupun dengan kenyataan yang sama aku tidak mendapatkan yang terbaik; pengabaian dan menomer sekiankan.
            Helaan nafas terdengar disudut ruang kamarku, dentuman jam terdengar menunjukkan pukul enam telah membuyarkanku dari permainan gila bernama pengabaian seorang kekasih hati.

“Pilihlah dia yang mencintai dan mengutamakanmu, daripada dia yang kau cintai tapi menjadikanmu pengemis perhatian.”