Ini tentang kita,
bukan tentang keluarga, teman, atau bahkan orang lain. Ini tentang kita, bukan
cerita fiksi seperti dongeng Cinderella dan novel-novel Teenlit
semata. Ini tentang kita, tentang seorang adam dan hawa yang saling berlari, mencari dan
dicari, lalu pada akhirnya bertemu. Ini tentang
kita, tentang seorang anak manusia yang telah bertemu dengan tulang rusuknya
diantara jutaan tulang rusuk yang ada. Ini tentang kita…
Semuanya
selalu berawal dari pertemuan, bahkan cinta. Aku bertemu denganmu, ketika kami
duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA). Semua terlihat dan terasa biasa
pada awalnya ; semester pertama. Teman biasa, yah memang teman biasa. Di masa
itu, ketika hati masih terbalut luka dan perih, ketika itu juga aku
takut ; takut untuk kembali membuka hati, takut terabaikan untuk kedua
kali.
Beberapa
bulan kemudian, entah hati ini kembali terbalut luka dengan bualan janji-janji
manis yang tak terhitung jumlahnya. Entah ini sudah ke sekian kalinya ia
merusak, mematahkan, mencabik-cabik, bahkan mengiris-iris hatiku yang berisi
tentangnya. Aku menyerah, rasanya perjuanganku harus berakhir. Aku lelah, dan rasanya
aku hampa.
Kehampaanku adalah celah yang kamu manfaatkan dengan
cukup baik. Kehadiranmu sepertinya memang tepat. Dari percakapan di BBM
tentang tugas, pr, bahkan ulangan sukses membuatku jatuh cinta diam-diam.
Diam-diam pula aku memperhatikanmu, dari sudut yang kamu takkan pernah ketahui.
Dari mengintip twitter dan facebookmu, membaca tweet dan status-mu,
bahkan melihat foto-fotomu yang terpampang di facebook.
“Terima kasih
moodbooster buat soal ekonominya hehe :3”
“Ahh
moodbooster tuu :3”
Ada suatu hipotesis
yang dapat aku petik dari beberapa tweet-mu, aku rasa kamu merasakan hal
abstrak yang juga aku rasakan ; cinta. Tapi aku masih ragu, dan tak sepenuhnya
yakin dengan hipotesisku. Akan tetapi aku harus bereksperimen dan membuktikan
hipotesisku. Yah, harus.
Satu
bulan berlalu, hipotesisku kini menemui titik terang. Perhatian dan perlakuanmu
kepadaku yang berlebihan memberiku petunjuk. Dari yang biasanya cuek, lalu
berubah perhatian. Dari yang biasanya pendiam, lalu berubah cerewet. Indah.
Dan
hipotesisku kini hampir seutuhnya berubah menjadi suatu kesimpulan. Ketika
sebuah tugas dari sebuah mata pelajaran yang mengharuskan berkelompok dan
membuat video musikalisasi puisi, tanpa
ba-bi-bu lagi aku langsung merekrutmu sebelum yang lain mendahului. Dari
awal, menurutku, kamulah satu-satunya anggota paling bersemangat dengan ide
yang menggebu-gebu, entah karena kamu menyukai tugas ini atau mungkin menyukai
kehadiranku sebagai patner kerjamu. Kehadiranku? Bagaimana mungkin? Ahh itu
hanya fatamorgana-ku semata.
Menurutku,
tugas ini cukup banyak menyita waktu; waktu untuk kita berduaan. Dari yang mulanya
pergi mengambil adegan baca puisi di sebuah pantai, dan merasakan pertama kali boncengan denganmu. Dag-dig-dug. Salah
tingkah. Gugup. Ahh, lengkap rasanya.
Yang kedua,
ketika rekaman baca puisi, aku berangkat dengan menerjang hujan, berharap
sesampai di rumah temanku tidak hujan kembali, mengingat jarak rumahku dengan
temanku cukup jauh, mungkin saja berbeda. Sesampaiku dirumahnya, aku mendapati
kenyataan bahwa temanku sedang keluar untuk menyelesaikan beberapa urusan.
Menunggu, aku sabar untuk menanti. Walaupun dalam kenyataan yang sebenarnya aku
tak pernah bisa menunggu. Seperti menunggu kepastian akan dirinya.
Bel motormu mampu membuyarkan
segala lamunanku yang berisi masa lalu. Kulihat bibirmu yang tipis
melengkungkan seberkas senyuman hangat kepadaku. Langkahan kakimu mendekat,
senada dengan degupan jantungku yang berdetak tak karuan. Perbincangan kita
dimulai dengan ucapan hai yang terlontar dari bibirku yang teramat
sekarat ingin selalu menyapamu.
Temanku telah
selesai dari urusannya dan telah kembali ke rumahnya; dan ini artinya waktu berdua
dengannya telah usai, dan berganti dengan waktu menyelesaikan tugas. Kamu lagi
lagi membuat jantung ini tak hentinya berdegup kencang. Ketika rekaman, kamu berada
disisiku untuk duduk, dekat, teramat dekat, hingga tak ada jarak terbentang
diantara kita. Tuntutan tugas, han ; batinku. Lalu aku diam-diam
memperhatikanmu ketika kamu merekam suara temanku, dan aku mendapati posisimu yang
tidak sedekat denganku tadi. Mungkinkah ini salah satu modus-mu? Aku
mendengus kecil.
Sepertinya langit
kembali tidak bersahabat denganku ; hujan kembali ; disaat waktunya kembali ke
rumah masing-masing. Dan disaat itu pula, kamu dengan indahnya bersedia
mengantarkanku pulang; maksudku mengantarkanku sampai pemberhentian angkutan.
Jas hujan yang kamu kenakan tak cukup untuk menutupiku dari hujan yang melanda
sore itu. Bahkan untuk menutupi seluruh kepalaku saja tak mampu ; kecuali jika
posisiku mendekat bahkan menempel denganmu. Ahh, aku bukan siapa-siapamu. Aku
tak mungkin berbuat selancang itu. Sudahlah, aku tetap menikmati masa ini,
menikmati dinginnya hujan yang menusuk tulang bersamamu. Walaupun dalam
kenyataan yang sebenarnya, hanya aku yang merasakan tetesan hujan yang
menghujam ini.
Setelah
tugas musikalisasi tersebut terselesaikan, kamu lebih sering menghubungiku,
memberiku perhatian lebih, hingga
menunjukkan berbagai sikapmu yang teramat manis kepadaku. Beberapa kata yang
tersirat didalam percakapanmu adalah kesimpulan terselubung yang menguatkan
hipotesisku sebelumnya.
-Kamu
juga merasakan seperti yang ku rasakan, hal abstrak yang membelenggu dan
mengikat hati bernama cinta-
Kita
menjalin hubungan satu tingkat lebih tinggi dari teman ataupun sahabat. Special,
yah teman special. Saling mengenal dan memahami. Beberapa usaha pendekatanmu
seperti mengajakku nonton ataupun lunch sukses membuatku makin
menikmati kebersamaan ku denganmu. Karenamu, aku semakin yakin dan tak takut
lagi untuk jatuh cinta. Dan denganmu, aku yakin luka di masa lalu akan terobati
oleh kehadiranmu yang mengisi hari-hari kelamku selama ini.
Dan
pada tanggal 8 September 2013 ; malam harinya ; dengan tiba-tiba kamu
menelfonku. Disudut sana terdengar jelas pertanyaan dari bibir manismu yang
selama ini selalu ku nantikan.
“Han,
kamu mau enggak jadi pacarku?”
Rasa-rasanya
aku baru bangun dari mimpi panjangku selama ini. Cubitan lenganku terasa amat
sakit menandakan aku sedang tidak bermimpi. Inilah kenyataannya. Dengan
gugup karena teramat senang, aku menjawab iya perlahan. Dan mulai detik
itulah, suatu hubungan percintaan dimulai, hingga kini, dan untuk selamanya.
Ini
tentang kita, tentang seberapa tangguh kita berjuang. Tentang seberapa lama
kita berdekatan. Tentang seberapa kuat kita bertahan. Dan tentang seberapa
hebat kita memahami. Ini tentang kita, tentang aku, tentang kamu, dan tentang
kebersamaanku denganmu, Aridya Wicaksono.
Selesai