Tak ku sangka lewat setutur kata
Yang tersurat di kertas
Ku senang dan ku riang
Ku bahagia
Tanpa berfikir panjang
Ku lontarkan rasa bahagia
Dengan hal aneh
Bak orang yang sedang gila
Reef :
Awal ku rasa indah
Tak ingin ku lepas lagi
Kau janjikan cinta yang semu
Perlahan semua berbeda
Kejujuranpun tiada
Rasa itu kini tlah sirna
Dan ... benar
Kau terbangkan aku
Dan ... benar
Kau lambungkanku
Namun engkau tinggalkanku
Bak angin yang semu
Janjimu ...
Janjimu ...
Kamis, 25 Desember 2014
Selasa, 23 Desember 2014
Dibalik Mawar
Dinginnya
pelukan mesra udara malam sepertinya menusuk dan membunuh perlahan. Angin malam
menghantarkanku pada keporak-porandanya mimpiku. Tanpa diinginkan, tetes demi
tetes mulai menutupi rona pipiku. Kata orang melepaskan yang telah tergenggam
bukanlah hal mudah. Tapi bagaimana jika yang tergenggam itu berupa duri mawar
beracun atau paku berkarat? Bagaimana jika itu membuat tak berdaya dan sekarat?
Haruskah
cinta suci nan putih ternodai? Haruskah cinta yang dibangun dengan puing kecil
perhatian dan jumputan kesetiaan yang tertabur di dalamnya hancur diterpa
badai? Akankah cinta bertahan, disaat api mulai memanasi lilin? Bagaimana
akhirnya kala lilin melebur dan hancur demi menerangi sang penakluknya? Akankah
itu semua akan berlaku?
____________________________________________
Satu
tahun bersamanya tak membuatku mengalami masa-masa penat. Berbeda dengannya,
kepenatan selalu menghantui dirinya. Diam, lalu membisu dihadapanku; seakan dia
menjadi tuna rungu dan tuna wicara. Bahkan seperti mayat hidup; dingin dan tak
berpembuluh. Tak punya hati dan perasaan.
Selama
satu minggu ia mematung. Tanpa kabar. Bagai menanti hujan di gurun pasir yang
mengalami musim kemarau. Itu aku. Tercekik, dan kehausan akan bening dan
segarnya kabar darinya. Tapi ia tetap sama; membatu disekujur tubuhnya, tak
luput hatinya. Keras.
Berhari-hari
hati tersiksa oleh rindu yang menggerayanginya. Sampai diujung peluh membanjiri
pipi, disaat itulah tangan kecilmu menghantarkan sebuah pesan dari bibir yang mulai
merekah. Ahhh, menakjubkan! Seakan terbang di hamparan perkebunan bunga
edelweis di musim semi, indah.
Seakan
tak mau bertele-tele dengan kehidupan, aku mulai membaca pesannya. Kalimatnya
sederhana, delapan buah kata penuh isyarat.
“Kita
sepertinya udah enggak sama, aku minta putusJ”
Seakan degupan jantung berhenti sejak satu
detik yang lalu karena tersengat delapan buah kata dengan tegangan ribuan volt
yang menjalar menuju relungku. Entah berbentuk apa jika hati ini ada bentuknya
dalam nyata. Lara bersama penantian itu apa-apa, bukan tidak apa-apa. Tanpa
diharapkan, hujan seakan menderas, mengalir dari sudut pipi meronaku.
Aku
membalasnya dengan munafik; bibir berkata “iya” namun hati berkata “tidak”.
Entah mengapa semunafik itu aku berlaku. Aku hanya tak ingin di cap sebagai “wanita
murahan” lalu “tak tahu diri” atau “tak tahu malu”. Siapa yang mau menyandang
predikat “wanita pengemis cinta” seseorang yang telah memaksa keluar, menyeret,
lalu menendang dalam hati lelakinya? Lebih baik sakit sedalam, selebar, dan
sekuat apapun daripada harus membawa malu, bukan?
Aku
diam bersama ribuan pertanyaan yang terngiang dalam otakku. Mengapa ia seburuk
itu? Sejahat itu bak peran antagonis dalam drama-drama klasikal yang pernah ku
lihat? Bahkan lebih keji dibanding pemeran bayaran tersebut. Entah apa yang
merasuki dirinya mungkin, seakan dia tak punya hati dan egois. Seakan hati berpindah
dalam dengkulnya, lalu dengkulnya berpindah dalam otaknya, dan otak dalam
hatinya. Tak rasional seperti matematika, tapi memang seperti itu dia, menawan
tapi menyakitkan.
____________________________________________
Selang beberapa hari setelah selesai
dengannya, aku mencoba mencari dinginnya embusan angin malam yang telah ku
lewatkan beberapa hari yang lalu sejak saat itu. Aroma kopi, teh dan susu yang
bergelayutan mengisi cafe ini. Ditemani dengan secangkir kopi yang hangat, lalu
laptop yang selalu setia di sampingku. Yah, setelah keterpurukanku kini, aku
lebih suka mengisi hariku dengan menulis.
Aku menatap disekelilingku. Mataku adalah
saksi bisu sekaligus perekam aktifitas insan disekitar. Mataku memfokuskan
ketajamanannya ketika aku mendapatinya; manusia menawan yang menyakitkan itu,
bercinta dengan semak belukar. Dan diujung meja kursi cafe yang sama. Ketika
kaki ini mulai tertuntun mendapati dirinya, seakan ada peri kecil yang berkata “Sudahlah, dia masa lalumu. Tuhan telah
mengatur semuanya, sekarang lihat kan? Dia bukan yang terbaik untukmu”.
Hidup bukan seperti fairytale yang pernah aku baca saat kecil dulu, selalu happy ending. Hidup itu keras, penuh siksa,
baik raga maupun jiwa. Tapi kini aku mengerti, semua siksa pasti ada hikmahnya.
Kekuatan Tuhan selalu ada dan menyertai hamba-Nya. Bukankah Tuhan adil, akan
menjodohkan wanita yang baik dengan lelaki yang baik juga?
Aku kembali duduk dipersinggahanku semula,
menatapi jejeran anak kalimat demi kalimat yang tersebar dilaptopku. Diam-diam,
aku memperhatikannya; mawar yang pernah mengisi hatiku sedang bercumbu mesra
dengan semak belukar di ujung cafe. Lalu kembali mengintai laptop, dan begitu
seterusnya, hingga kursi disana hampa. Lalu hilang, bersama laraku.
SELESAI
Kamis, 30 Oktober 2014
Gempita Semak Belukar
Malam panjang nan sunyi. Ahh, rasanya selalu saja sedemikian rupa. Malam
menghabiskan waktu untuk menceritakanmu. Cinta berkobar-kobar layaknya si jago
merah yang merayap habis segalanya. Namun jago merah tak selalu menyala, dan ia
akan padam. Yah, padam.
Tak terkecuali dua suku kata yang memiliki jutaan makna (baca:
cinta). Percikannya menjadi awal
perjalanan panjangnya. Setelah padam, ada sepasang mata sembab yang meratap
penuh penyesalan. Aku adalah salah satunya.
Pemilik mata hitam bulat itu tak sadar, berulang kali menghantam
perasaan rapuh. Selalu saja asyik dengan kegiatannya. Berhari-hari dengan
berpuluh semak belukar yang selalu membungkam dan menatap sinis kearahku. Ia
justru mendekati semak belukar yang terus menatapku dengan pandangan masam.
Semak belukar itu semakin menggila dan tak tahu diri. Menggoda genit sang mata
hitam bulatku.
Aku tak paham dengan perasaan yang bergelut di dada. Yang terasa hanya
perih bak duri semak belukar menancap perasaan rapuh dengan gemparnya. Menyakitkan.
Tetapi pemilik mata hitam itu tidak tahu seretak apa perasaan ini. Dia selalu
bermasa bodoh denganku dan dengan apa yang terucap dari bibirku, dia terus saja
memperhatikan para semak belukar.
Bukankah aku adalah insan istimewanya? Bukankah aku dan dia telah
berubah menjadi “kita”? Lalu mengapa ia tak mengawasi perasaannya, malah justru
membiarkan saja semak-semak belukar mengelilinginya? Sementara perasaanku
selalu saja ia awasi. Tak adil.
Panas. Telingaku cukup panas dan muak mendengar celotehan berbau semak
belukar dari pemilik mata hitam bulat itu. Aku tak habis pikir, apa yang telah
membuat cintanya berubah. Dan lama kelamaan padam. Sementara itu, aku pantang
menyerah mengobarkan dan membesarkan cinta didalamnya. Menahan kobaran cinta
agar tak padam. Apakah ini sia-sia?
Sepertinya iya. Sangat sia-sia. Cintanya telah padam untukku. Ia tak
pernah membelai cinta itu, dia sibuk dengan para semak belukarnya. Menghabiskan
waktu berpuluh-puluh jam dengannya, dan tak pernah tersisa untukku. Aku bagai
patung, tak dianggap, tak berharga, dan selalu diacuhkan.
Semak belukar telah mengubahnya. Mengubah kehidupannya yang sederhana
menjadi gemerlap. Mengubah cintanya, bahkan memadamkan kobarannya. Pengganggu.
Ahh sudahlah. Persetan dengan mereka semua. Aku cukup muak. Sangat
bahkan. Biarkan saja mereka bermain ria, kini aku tak peduli. Biarkan saja
pemilik mata hitam bulat itu bangun sendiri dari mimpinya yang salah. Aku cukup
lelah membangunkannya. Dan biarkan saja para semak belukar terhantam oleh semak
belukar lain. Karma masih berlaku, dan akan terus berlaku. Entah sampai kapan.
Jam berdentang pukul 22.00 WIB, waktu yang tepat untuk terlelap dan
menghela panjang nafas didada yang penuh berisi gempita para semak belukar.
Rabu, 27 Agustus 2014
Stasiun dalam Genggaman Kenangan
Matahari kini mengurung
diri untuk menampakkan kilaunya. Hanya ada segelintir awan gelap ganas
menyelubungi langit yang biasanya membiru. Beribu buliran air dimuntahkan dari
bibir langit yang kelu. Kini, muntahan demi muntahannya semakin menggila.
Tampak kerumunan zat cair berwarna cokelat pucat tercerai berai di jalanan yang
terlindas oleh ribuan roda secara keji.
Aku
mengingatnya. Duduk termangu bersama seorang lelaki, menghindari kejamnya
hujaman tangisan awan di kesunyian stasiun. Lalu meratapi jalinan rel yang
berdesis jika dilalui gerbong-gerbong raksasa. Yah, hujan tak pernah
menyurutkan kita dari kesenangan gila semacam ini.
“Kamu suka aku ajak kesini enggak
yang?” tanyanya memecah dinginnya embusan angin yang dipeluk rintikan hujan.
“Suka, sayang. Selalu suka kalau kamu
yang mengajak.” suara parauku terdengar bak penusuk sunyinya rel yang belum
tersentuh roda lokomotif sejak tadi.
Ada sepasang mata
hitam yang membulat dengan sejuta kilauan terpancar ketika tatapannya
membelaiku. Lalu bibir tipis yang selalu melukis berbagai lengkung senyuman
renyah. Telinga kecilnya selalu siap dengan lontaran cerita rumit yang bergelut
dari sudut bibir merah muda ini. Lalu sepasang tangan khas yang lembut tak
luput menggenggam, merangkul, dan memeluk.
Awan telah usai
menitikkan air dipelupuk matanya. Ia kembali dengan mata membengkak kepelukan
langit biru muda. Senyum tipis nan manis awan yang berwarna merekah
berseri-seri. Kakunya angin bertiup terhempas oleh sengatan panas yang menjalar
keras dari hulu menuju hilir.
Kaki jenjangnya perlahan
menjauhiku. Entah mengapa ia bergerak menuju kerumunan gerbong yang selalu
tertidur pulas. Mungkin saja ia sedang mengecek apakah gerbong itu sakit demam
atau flu hebat. Atau bahkan dia akan merawatnya; menyelimuti dan menyuap
makanan lalu memberinya obat. Ahh, kekasih hatinya saja tak pernah diperlakukan
seistimewa itu, memangnya siapa dan apa hubungannya; gerbong lusuh berwarna
cokelat yang tak berpembuluh.
Mata yang menuntun kaki ini melangkah mendekatinya. Ada sesuatu yang menggelitik relung, memanjakan hati dan membuai jiwa. Aku tak paham dengan apa yang telah membuatku linglung bak tertanam gendam atau semacamnya. Rasanya, aku bagai magnet berkutub utara dan dia adalah magnet berkutub selatan yang saling tarik menarik. Ialah sebab dari rasa mabuk yang memiringkan langkah, lalu perlahan mengganggu kinerja otakku.
Dari sudut rel kaku nan dingin terbentang, tertangkap gemerlap lampu sebuah benda yang berlarian diatas rel yang berdecak mesra. Embusan beku angin sedang bercumbu dengan bekas tangisan miris awan dihantam suara kereta yang menggelegar. Gerbong-gerbong tidur berguncang rindu dengan rel manis disisi bawahnya.
Mata yang menuntun kaki ini melangkah mendekatinya. Ada sesuatu yang menggelitik relung, memanjakan hati dan membuai jiwa. Aku tak paham dengan apa yang telah membuatku linglung bak tertanam gendam atau semacamnya. Rasanya, aku bagai magnet berkutub utara dan dia adalah magnet berkutub selatan yang saling tarik menarik. Ialah sebab dari rasa mabuk yang memiringkan langkah, lalu perlahan mengganggu kinerja otakku.
Dari sudut rel kaku nan dingin terbentang, tertangkap gemerlap lampu sebuah benda yang berlarian diatas rel yang berdecak mesra. Embusan beku angin sedang bercumbu dengan bekas tangisan miris awan dihantam suara kereta yang menggelegar. Gerbong-gerbong tidur berguncang rindu dengan rel manis disisi bawahnya.
“Yee, kereta!” ungkapnya dengan
keluguan kertas putih yang belum tergores tinta manapun.
“Hore, itu kereta apa ya?”suara
lantangku berusaha melawan decitan rel yang dipeluk lokomotif hijau.
Kalimat yang terlontar dari bibir tipis nan manis menuturkan tuturan rumit serumit transformasi galileo. Nada lembut yang menjalar ke telinga, dan otak berkecamuk dengan pemahamanku. Ia merogoh saku celana, dan mengeluarkan ponsel yang setia menemaninya. Kamera itu ia condongkan menuju lokomotif yang sedang melaju, lalu terekam kereta berselancar di garis-garis ombak rel. Puluhan video yang ia simpan, dan isinya selalu saja sama; kereta. Rupanya ia amat sakau dengan benda unik yang menggelar rel tersebut.
Kalimat yang terlontar dari bibir tipis nan manis menuturkan tuturan rumit serumit transformasi galileo. Nada lembut yang menjalar ke telinga, dan otak berkecamuk dengan pemahamanku. Ia merogoh saku celana, dan mengeluarkan ponsel yang setia menemaninya. Kamera itu ia condongkan menuju lokomotif yang sedang melaju, lalu terekam kereta berselancar di garis-garis ombak rel. Puluhan video yang ia simpan, dan isinya selalu saja sama; kereta. Rupanya ia amat sakau dengan benda unik yang menggelar rel tersebut.
Yah,
kini dia berubah. Dari sisi dan sudut penglihatanku, dia benar-benar berubah. Kita
tak lagi seperti dulu, seperti pengagum berat lokomotif beroda entah jumlahnya
berapa. Ia dengan seribu satu macam kesibukan, dan aku selalu terabaikan. Tak
lagi tersisa waktu untukku, untuk kereta, bahkan untuk menyajikan padaku sekelumit
kabar.
Jalan berbatu seakan membangunkan lamunanku tentang sepatnya masa lalu. Helaan nafas yang tertahan pada bibir kelu mampu membuyarkan ratapanku yang sembari tadi meratapi jalanan yang cukup lenggang. Tak terasa bis yang ku tumpangi telah mengantar menuju istanaku. Beberapa langkah tegapku mampu mencapai kerajaan megah dimataku. Singgasanaku adalah tempat yang senantiasa ku nanti. Dengan merebahkan diri, ku ambil ponsel dari saku rok. Bunyi tuts ponsel memecah kedinginan suasana yang amat senyap.
Jalan berbatu seakan membangunkan lamunanku tentang sepatnya masa lalu. Helaan nafas yang tertahan pada bibir kelu mampu membuyarkan ratapanku yang sembari tadi meratapi jalanan yang cukup lenggang. Tak terasa bis yang ku tumpangi telah mengantar menuju istanaku. Beberapa langkah tegapku mampu mencapai kerajaan megah dimataku. Singgasanaku adalah tempat yang senantiasa ku nanti. Dengan merebahkan diri, ku ambil ponsel dari saku rok. Bunyi tuts ponsel memecah kedinginan suasana yang amat senyap.
“Sayang, lagi apa?” tanyaku dengan
harap yang
meletup-letup.
Terbuang sudah satu jam, ia tetap
membisu dalam Blackberry Messenger dengan seribu tanya yang mendera
jiwaku. Kembali ku manjakan papan tombol yang selalu menghitam.
“Lagi bobok ya yang?”
Disini, aku masih membuang waktu untuk
menanti, seperti pungguk yang merindukan bulan. Dengan seragam yang masih melekat
ditubuh dan ponsel yang senantiasa terjamah olehku. Tanganku seolah tergelitik
oleh relung untuk mengetik satu atau dua patah kata untuknya.
“PING!!!”
“Yang?”
Ia kembali tanpa kebisuan semata
setelah penantianku yang berlangsung selama sepuluh menit.
“Aku lagi sibuk, jangan ganggu” jawab
pahit sang pemilik bibir manis itu.
Aku tak paham dengan makna kata “sibuk” yang amat ia puja. Seringkali ia begitu; mematahkan, merobek, mencabik-cabik bahkan mengiris-iris hatiku dengan “kesibukan” dirinya hingga mengabaikan berbagai hal, membentangkan jarak, serta membagi perhatian. Setega itukah manusia menawan sepertinya? Apakah semua manusia sehebat dia selalu menyakitkan, tak punya hati dan perasaan? Rumit.
Aku tak paham dengan makna kata “sibuk” yang amat ia puja. Seringkali ia begitu; mematahkan, merobek, mencabik-cabik bahkan mengiris-iris hatiku dengan “kesibukan” dirinya hingga mengabaikan berbagai hal, membentangkan jarak, serta membagi perhatian. Setega itukah manusia menawan sepertinya? Apakah semua manusia sehebat dia selalu menyakitkan, tak punya hati dan perasaan? Rumit.
____________________________________________
Malam sunyi sepi
tanpa kabarnya adalah hal yang teramat biasa bagiku. Seharusnya malam ini
menjelma bagai malam penuh bintang dan bulan yang menaburkan kilauan pancaran
cinta dalam hubungan kita. Yah, esok hari, Minggu, 14 Desember 2003 adalah hari
anniversary 2 tahun bersamanya. Bersamanya, waktu bagai roda lokomotif
yang melaju kencang, dan berakhir lambat ketika melintasi masa jenuh. Secercah
harap terihlami oleh Tuhan. Ponsel lalu ku gapai.
“Halo. Yang, besok sore ke stasiun
yuk? Aku rindu lihat gerbong lari-lari!” kataku dengan harap yang
menggebu-gebu.
“Besok? Aku sibuk, enggak bisa”
bantahnya.
“Ayolah yang, sekali waktu. Aku cuman
minta kamu temenin doing, ya?” pinta harapku.
“Aku gabisa, aku sibuk beneran!” nada
tinggi mulai terdengar dari sudut suara disana.
“Ayo yang, plis aku mohon sama kamu.
Ya?” permohonan terakhir terlontar dari hati.
“Enggak bisa!” bentaknya.
“Hmm, yasudah yang” desis kekalahan
dan kesedihanku.
Tanpa hati dia menutup telepon-ku. Sepertinya ia telah dibutakan oleh gemerlap kesibukan yang membuatnya terlena ketika menyelamnya. Seakan dia bermasa bodoh dengan apa yang sepantasnya ia perhatikan. Dan seakan aku menjelma menjadi bukan siapa-siapa atau unit terpenting dalam hidupnya.
Air dipelupuk mata yang gerimis mulai menghujami pipi lengkungku. Perlahan tetes demi tetes mulai menderas seiring dengan awan diluar sana yang juga memuntahkan perasaannya. Aku hanyut dalam balutan luka tertancap duri beracun yang ku peluk. Sekarat rasanya. Sakit, teramat sakit. Haruskah hari bahagia ternodai oleh egomu yang semakin meluap ? Basahnya bantalku senantiasa menemani malam lelapku yang berat.
Tanpa hati dia menutup telepon-ku. Sepertinya ia telah dibutakan oleh gemerlap kesibukan yang membuatnya terlena ketika menyelamnya. Seakan dia bermasa bodoh dengan apa yang sepantasnya ia perhatikan. Dan seakan aku menjelma menjadi bukan siapa-siapa atau unit terpenting dalam hidupnya.
Air dipelupuk mata yang gerimis mulai menghujami pipi lengkungku. Perlahan tetes demi tetes mulai menderas seiring dengan awan diluar sana yang juga memuntahkan perasaannya. Aku hanyut dalam balutan luka tertancap duri beracun yang ku peluk. Sekarat rasanya. Sakit, teramat sakit. Haruskah hari bahagia ternodai oleh egomu yang semakin meluap ? Basahnya bantalku senantiasa menemani malam lelapku yang berat.
____________________________________________
Ada sesuatu yang
menggelitik jiwa dan menggerogoti hati yang rindu ketika sore menjelang. Rindu
yang membalut kita, kenangan dan kereta. Ada saja bisikan-bisikan angan untuk
mengajaknya mengkuduskan hari bahagia ini. Sepertinya itu tak kan pernah
terwujud, mengingat perlakuan dingin nan keras yang ia selalu lemparkan padaku.
Kunang-kunang
sepertinya bersemayam di pikiranku. Aku tahu! Jika rindu tak berkesudahan
mengerang, maka akan ku temukan sumber rindu itu. Sumber rindu terpendam adalah
jutaan roda lokomotif, ratusan anak rel yang berjajar, dan puluhan gerbong
tidur yang senantiasa menemani, dahulu. Langkah mantapku terpatri menuju kamar
mandi untuk bergegas menjelma bak elok rupanya. Seusainya, kaki ini melangkah
menjauhi singgasana dan menemukan wanita setengah baya; mama sedang menyiram
tanaman.
“Ma, aku pergi dulu ya?”ucapku
sembari mengenakan sepatu.
“Ehhh mau kemana nak?” tanya wanita
setengah baya yang selalu cantik dimataku.
“Pergi ma, nanti kalau ada yang
nyariin bilang aja aku pergi ya ma, kira-kira lama ma…” sambungku.
“Yasudah, hati-hati nak” desisnya
sembari mengulurkan tangan yang khas.
Ciumanku tepat mendarat di punggung tangannya.
Langkah gopohku sepertinya mampu meredam waktu perjalanan menuju sang kereta kenangan. Dewi fortuna sepetinya sedang berpihak padaku. Bis telah tersedia untuk mengantarkanku, tanpa ba-bi-bu aku memasukinya. Jalanan terliat lenggang, tak butuh waktu yang lama untuk sampai menuju kenanganku.
Langkah gopohku sepertinya mampu meredam waktu perjalanan menuju sang kereta kenangan. Dewi fortuna sepetinya sedang berpihak padaku. Bis telah tersedia untuk mengantarkanku, tanpa ba-bi-bu aku memasukinya. Jalanan terliat lenggang, tak butuh waktu yang lama untuk sampai menuju kenanganku.
Aku
berpijak pada permukaan bumi berbatuan yang di tempelkan rel manis yang
mengantri. Yah, aku telah sampai di surga kenangan; tempat mengenang dan
dikenang. Dua tahun silam ia mematri janji sucinya disini, stasiun sunyi.
Disaksikan pula gerbong tidur yang tak kunjung terbangun. Lalu jembatan layang
yang senantiasa meramaikan suasana misteri rel.
Ada
banyak kereta yang ku tangkap sore ini, baik dengan mata maupun kamera. Decitan
rindu rel mampu meredam sedikit amarahku tentang egonya yang ia pertahankan.
Gerbong yang tak kunjung terbangun seringkali ku belai. Lalu pusat stasiun yang
senantiasa merayakan nyepi tiap harinya.
Mentari
kini mulai meredupkan diri. Tersisa awan putih menggumpal yang melukis seberkas
tangisan miris diabaikan mentari yang sibuk dengan urusannya. Untung saja senja
segera memeluk sang awan dan menghiburnya sejenak. Dengan tergopoh – gopoh, aku
segera kembali ke istanaku. Saat kaki bergetar untuk melangkah, saat itu juga rel
membuat aku terperosok dibebatuan. Metode perabaan sepertinya efektif untuk
menemukan kacamata-ku yang menghilang entah kemana. Sebuah
frekuensi suara samar yang tak jelas kemudian tertangkap oleh kedua telinga
rumitku. Aku enggan untuk memfokuskan diri dengan suara-suara yang bergelut
dengan desiran angin.
Tuhan menuntun
tanganku untuk menggali kacamata-ku. Dan benar saja, tangan tuntunan malaikat
yang diutus Tuhan mampu mengembalikan kacamata-ku. Ketika aku menggapai dan
mengenakannya, mataku seakan menangkap sesuatu sedang mengintaiku. Sesuatu yang
amat ku puja dan ku banggakan. Sesuatu yang senantiasa ternantikan olehku. Dan
kini ia berdiri tepat 5 jengkal di mataku. Kereta.
Aku
membiaskan gemerlap senyum terhadapnya, membiaskan senyum terakhirku untuknya
disenja bahagia. Dan senyum terakhirku untuk selamanya.
SELESAI
Rabu, 16 Juli 2014
Ini Tentang Kita
Ini tentang kita,
bukan tentang keluarga, teman, atau bahkan orang lain. Ini tentang kita, bukan
cerita fiksi seperti dongeng Cinderella dan novel-novel Teenlit
semata. Ini tentang kita, tentang seorang adam dan hawa yang saling berlari, mencari dan
dicari, lalu pada akhirnya bertemu. Ini tentang
kita, tentang seorang anak manusia yang telah bertemu dengan tulang rusuknya
diantara jutaan tulang rusuk yang ada. Ini tentang kita…
Semuanya
selalu berawal dari pertemuan, bahkan cinta. Aku bertemu denganmu, ketika kami
duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA). Semua terlihat dan terasa biasa
pada awalnya ; semester pertama. Teman biasa, yah memang teman biasa. Di masa
itu, ketika hati masih terbalut luka dan perih, ketika itu juga aku
takut ; takut untuk kembali membuka hati, takut terabaikan untuk kedua
kali.
Beberapa
bulan kemudian, entah hati ini kembali terbalut luka dengan bualan janji-janji
manis yang tak terhitung jumlahnya. Entah ini sudah ke sekian kalinya ia
merusak, mematahkan, mencabik-cabik, bahkan mengiris-iris hatiku yang berisi
tentangnya. Aku menyerah, rasanya perjuanganku harus berakhir. Aku lelah, dan rasanya
aku hampa.
Kehampaanku adalah celah yang kamu manfaatkan dengan
cukup baik. Kehadiranmu sepertinya memang tepat. Dari percakapan di BBM
tentang tugas, pr, bahkan ulangan sukses membuatku jatuh cinta diam-diam.
Diam-diam pula aku memperhatikanmu, dari sudut yang kamu takkan pernah ketahui.
Dari mengintip twitter dan facebookmu, membaca tweet dan status-mu,
bahkan melihat foto-fotomu yang terpampang di facebook.
“Terima kasih
moodbooster buat soal ekonominya hehe :3”
“Ahh
moodbooster tuu :3”
Ada suatu hipotesis
yang dapat aku petik dari beberapa tweet-mu, aku rasa kamu merasakan hal
abstrak yang juga aku rasakan ; cinta. Tapi aku masih ragu, dan tak sepenuhnya
yakin dengan hipotesisku. Akan tetapi aku harus bereksperimen dan membuktikan
hipotesisku. Yah, harus.
Satu
bulan berlalu, hipotesisku kini menemui titik terang. Perhatian dan perlakuanmu
kepadaku yang berlebihan memberiku petunjuk. Dari yang biasanya cuek, lalu
berubah perhatian. Dari yang biasanya pendiam, lalu berubah cerewet. Indah.
Dan
hipotesisku kini hampir seutuhnya berubah menjadi suatu kesimpulan. Ketika
sebuah tugas dari sebuah mata pelajaran yang mengharuskan berkelompok dan
membuat video musikalisasi puisi, tanpa
ba-bi-bu lagi aku langsung merekrutmu sebelum yang lain mendahului. Dari
awal, menurutku, kamulah satu-satunya anggota paling bersemangat dengan ide
yang menggebu-gebu, entah karena kamu menyukai tugas ini atau mungkin menyukai
kehadiranku sebagai patner kerjamu. Kehadiranku? Bagaimana mungkin? Ahh itu
hanya fatamorgana-ku semata.
Menurutku,
tugas ini cukup banyak menyita waktu; waktu untuk kita berduaan. Dari yang mulanya
pergi mengambil adegan baca puisi di sebuah pantai, dan merasakan pertama kali boncengan denganmu. Dag-dig-dug. Salah
tingkah. Gugup. Ahh, lengkap rasanya.
Yang kedua,
ketika rekaman baca puisi, aku berangkat dengan menerjang hujan, berharap
sesampai di rumah temanku tidak hujan kembali, mengingat jarak rumahku dengan
temanku cukup jauh, mungkin saja berbeda. Sesampaiku dirumahnya, aku mendapati
kenyataan bahwa temanku sedang keluar untuk menyelesaikan beberapa urusan.
Menunggu, aku sabar untuk menanti. Walaupun dalam kenyataan yang sebenarnya aku
tak pernah bisa menunggu. Seperti menunggu kepastian akan dirinya.
Bel motormu mampu membuyarkan
segala lamunanku yang berisi masa lalu. Kulihat bibirmu yang tipis
melengkungkan seberkas senyuman hangat kepadaku. Langkahan kakimu mendekat,
senada dengan degupan jantungku yang berdetak tak karuan. Perbincangan kita
dimulai dengan ucapan hai yang terlontar dari bibirku yang teramat
sekarat ingin selalu menyapamu.
Temanku telah
selesai dari urusannya dan telah kembali ke rumahnya; dan ini artinya waktu berdua
dengannya telah usai, dan berganti dengan waktu menyelesaikan tugas. Kamu lagi
lagi membuat jantung ini tak hentinya berdegup kencang. Ketika rekaman, kamu berada
disisiku untuk duduk, dekat, teramat dekat, hingga tak ada jarak terbentang
diantara kita. Tuntutan tugas, han ; batinku. Lalu aku diam-diam
memperhatikanmu ketika kamu merekam suara temanku, dan aku mendapati posisimu yang
tidak sedekat denganku tadi. Mungkinkah ini salah satu modus-mu? Aku
mendengus kecil.
Sepertinya langit
kembali tidak bersahabat denganku ; hujan kembali ; disaat waktunya kembali ke
rumah masing-masing. Dan disaat itu pula, kamu dengan indahnya bersedia
mengantarkanku pulang; maksudku mengantarkanku sampai pemberhentian angkutan.
Jas hujan yang kamu kenakan tak cukup untuk menutupiku dari hujan yang melanda
sore itu. Bahkan untuk menutupi seluruh kepalaku saja tak mampu ; kecuali jika
posisiku mendekat bahkan menempel denganmu. Ahh, aku bukan siapa-siapamu. Aku
tak mungkin berbuat selancang itu. Sudahlah, aku tetap menikmati masa ini,
menikmati dinginnya hujan yang menusuk tulang bersamamu. Walaupun dalam
kenyataan yang sebenarnya, hanya aku yang merasakan tetesan hujan yang
menghujam ini.
Setelah
tugas musikalisasi tersebut terselesaikan, kamu lebih sering menghubungiku,
memberiku perhatian lebih, hingga
menunjukkan berbagai sikapmu yang teramat manis kepadaku. Beberapa kata yang
tersirat didalam percakapanmu adalah kesimpulan terselubung yang menguatkan
hipotesisku sebelumnya.
-Kamu
juga merasakan seperti yang ku rasakan, hal abstrak yang membelenggu dan
mengikat hati bernama cinta-
Kita
menjalin hubungan satu tingkat lebih tinggi dari teman ataupun sahabat. Special,
yah teman special. Saling mengenal dan memahami. Beberapa usaha pendekatanmu
seperti mengajakku nonton ataupun lunch sukses membuatku makin
menikmati kebersamaan ku denganmu. Karenamu, aku semakin yakin dan tak takut
lagi untuk jatuh cinta. Dan denganmu, aku yakin luka di masa lalu akan terobati
oleh kehadiranmu yang mengisi hari-hari kelamku selama ini.
Dan
pada tanggal 8 September 2013 ; malam harinya ; dengan tiba-tiba kamu
menelfonku. Disudut sana terdengar jelas pertanyaan dari bibir manismu yang
selama ini selalu ku nantikan.
“Han,
kamu mau enggak jadi pacarku?”
Rasa-rasanya
aku baru bangun dari mimpi panjangku selama ini. Cubitan lenganku terasa amat
sakit menandakan aku sedang tidak bermimpi. Inilah kenyataannya. Dengan
gugup karena teramat senang, aku menjawab iya perlahan. Dan mulai detik
itulah, suatu hubungan percintaan dimulai, hingga kini, dan untuk selamanya.
Ini
tentang kita, tentang seberapa tangguh kita berjuang. Tentang seberapa lama
kita berdekatan. Tentang seberapa kuat kita bertahan. Dan tentang seberapa
hebat kita memahami. Ini tentang kita, tentang aku, tentang kamu, dan tentang
kebersamaanku denganmu, Aridya Wicaksono.
Selesai
Langganan:
Postingan (Atom)