Kamis, 25 Desember 2014

Musikalisasi Puisi (Musik : Secondhand Serenade - Awake)

Tak ku sangka lewat setutur kata
Yang tersurat di kertas
Ku senang dan ku riang
Ku bahagia

Tanpa berfikir panjang
Ku lontarkan rasa bahagia
Dengan hal aneh
Bak orang yang sedang gila

Reef :
Awal ku rasa indah
Tak ingin ku lepas lagi
Kau janjikan cinta yang semu
Perlahan semua berbeda
Kejujuranpun tiada
Rasa itu kini tlah sirna

Dan ... benar
Kau terbangkan aku
Dan ... benar
Kau lambungkanku
Namun engkau tinggalkanku
Bak angin yang semu
Janjimu ...
Janjimu ...

Selasa, 23 Desember 2014

Dibalik Mawar

        Dinginnya pelukan mesra udara malam sepertinya menusuk dan membunuh perlahan. Angin malam menghantarkanku pada keporak-porandanya mimpiku. Tanpa diinginkan, tetes demi tetes mulai menutupi rona pipiku. Kata orang melepaskan yang telah tergenggam bukanlah hal mudah. Tapi bagaimana jika yang tergenggam itu berupa duri mawar beracun atau paku berkarat? Bagaimana jika itu membuat tak berdaya dan sekarat?
        Haruskah cinta suci nan putih ternodai? Haruskah cinta yang dibangun dengan puing kecil perhatian dan jumputan kesetiaan yang tertabur di dalamnya hancur diterpa badai? Akankah cinta bertahan, disaat api mulai memanasi lilin? Bagaimana akhirnya kala lilin melebur dan hancur demi menerangi sang penakluknya? Akankah itu semua akan berlaku?
____________________________________________
       Satu tahun bersamanya tak membuatku mengalami masa-masa penat. Berbeda dengannya, kepenatan selalu menghantui dirinya. Diam, lalu membisu dihadapanku; seakan dia menjadi tuna rungu dan tuna wicara. Bahkan seperti mayat hidup; dingin dan tak berpembuluh. Tak punya hati dan perasaan.
      Selama satu minggu ia mematung. Tanpa kabar. Bagai menanti hujan di gurun pasir yang mengalami musim kemarau. Itu aku. Tercekik, dan kehausan akan bening dan segarnya kabar darinya. Tapi ia tetap sama; membatu disekujur tubuhnya, tak luput hatinya. Keras.
      Berhari-hari hati tersiksa oleh rindu yang menggerayanginya. Sampai diujung peluh membanjiri pipi, disaat itulah tangan kecilmu menghantarkan sebuah pesan dari bibir yang mulai merekah. Ahhh, menakjubkan! Seakan terbang di hamparan perkebunan bunga edelweis di musim semi, indah.
        Seakan tak mau bertele-tele dengan kehidupan, aku mulai membaca pesannya. Kalimatnya sederhana, delapan buah kata penuh isyarat.
“Kita sepertinya udah enggak sama, aku minta putusJ
Seakan degupan jantung berhenti sejak satu detik yang lalu karena tersengat delapan buah kata dengan tegangan ribuan volt yang menjalar menuju relungku. Entah berbentuk apa jika hati ini ada bentuknya dalam nyata. Lara bersama penantian itu apa-apa, bukan tidak apa-apa. Tanpa diharapkan, hujan seakan menderas, mengalir dari sudut pipi meronaku.
      Aku membalasnya dengan munafik; bibir berkata “iya” namun hati berkata “tidak”. Entah mengapa semunafik itu aku berlaku. Aku hanya tak ingin di cap sebagai “wanita murahan” lalu “tak tahu diri” atau “tak tahu malu”. Siapa yang mau menyandang predikat “wanita pengemis cinta” seseorang yang telah memaksa keluar, menyeret, lalu menendang dalam hati lelakinya? Lebih baik sakit sedalam, selebar, dan sekuat apapun daripada harus membawa malu, bukan?
        Aku diam bersama ribuan pertanyaan yang terngiang dalam otakku. Mengapa ia seburuk itu? Sejahat itu bak peran antagonis dalam drama-drama klasikal yang pernah ku lihat? Bahkan lebih keji dibanding pemeran bayaran tersebut. Entah apa yang merasuki dirinya mungkin, seakan dia tak punya hati dan egois. Seakan hati berpindah dalam dengkulnya, lalu dengkulnya berpindah dalam otaknya, dan otak dalam hatinya. Tak rasional seperti matematika, tapi memang seperti itu dia, menawan tapi menyakitkan.
____________________________________________
Selang beberapa hari setelah selesai dengannya, aku mencoba mencari dinginnya embusan angin malam yang telah ku lewatkan beberapa hari yang lalu sejak saat itu. Aroma kopi, teh dan susu yang bergelayutan mengisi cafe ini. Ditemani dengan secangkir kopi yang hangat, lalu laptop yang selalu setia di sampingku. Yah, setelah keterpurukanku kini, aku lebih suka mengisi hariku dengan menulis.
Aku menatap disekelilingku. Mataku adalah saksi bisu sekaligus perekam aktifitas insan disekitar. Mataku memfokuskan ketajamanannya ketika aku mendapatinya; manusia menawan yang menyakitkan itu, bercinta dengan semak belukar. Dan diujung meja kursi cafe yang sama. Ketika kaki ini mulai tertuntun mendapati dirinya, seakan ada peri kecil yang berkata “Sudahlah, dia masa lalumu. Tuhan telah mengatur semuanya, sekarang lihat kan? Dia bukan yang terbaik untukmu”.
Hidup bukan seperti fairytale yang pernah aku baca saat kecil dulu, selalu happy ending. Hidup itu keras, penuh siksa, baik raga maupun jiwa. Tapi kini aku mengerti, semua siksa pasti ada hikmahnya. Kekuatan Tuhan selalu ada dan menyertai hamba-Nya. Bukankah Tuhan adil, akan menjodohkan wanita yang baik dengan lelaki yang baik juga?
Aku kembali duduk dipersinggahanku semula, menatapi jejeran anak kalimat demi kalimat yang tersebar dilaptopku. Diam-diam, aku memperhatikannya; mawar yang pernah mengisi hatiku sedang bercumbu mesra dengan semak belukar di ujung cafe. Lalu kembali mengintai laptop, dan begitu seterusnya, hingga kursi disana hampa. Lalu hilang, bersama laraku.

SELESAI

Kamis, 30 Oktober 2014

Gempita Semak Belukar

Malam panjang nan sunyi. Ahh, rasanya selalu saja sedemikian rupa. Malam menghabiskan waktu untuk menceritakanmu. Cinta berkobar-kobar layaknya si jago merah yang merayap habis segalanya. Namun jago merah tak selalu menyala, dan ia akan padam. Yah, padam.
Tak terkecuali dua suku kata yang memiliki jutaan makna (baca: cinta).  Percikannya menjadi awal perjalanan panjangnya. Setelah padam, ada sepasang mata sembab yang meratap penuh penyesalan. Aku adalah salah satunya.
Pemilik mata hitam bulat itu tak sadar, berulang kali menghantam perasaan rapuh. Selalu saja asyik dengan kegiatannya. Berhari-hari dengan berpuluh semak belukar yang selalu membungkam dan menatap sinis kearahku. Ia justru mendekati semak belukar yang terus menatapku dengan pandangan masam. Semak belukar itu semakin menggila dan tak tahu diri. Menggoda genit sang mata hitam bulatku.
Aku tak paham dengan perasaan yang bergelut di dada. Yang terasa hanya perih bak duri semak belukar menancap perasaan rapuh dengan gemparnya. Menyakitkan. Tetapi pemilik mata hitam itu tidak tahu seretak apa perasaan ini. Dia selalu bermasa bodoh denganku dan dengan apa yang terucap dari bibirku, dia terus saja memperhatikan para semak belukar.
Bukankah aku adalah insan istimewanya? Bukankah aku dan dia telah berubah menjadi “kita”? Lalu mengapa ia tak mengawasi perasaannya, malah justru membiarkan saja semak-semak belukar mengelilinginya? Sementara perasaanku selalu saja ia awasi. Tak adil.
Panas. Telingaku cukup panas dan muak mendengar celotehan berbau semak belukar dari pemilik mata hitam bulat itu. Aku tak habis pikir, apa yang telah membuat cintanya berubah. Dan lama kelamaan padam. Sementara itu, aku pantang menyerah mengobarkan dan membesarkan cinta didalamnya. Menahan kobaran cinta agar tak padam. Apakah ini sia-sia?
Sepertinya iya. Sangat sia-sia. Cintanya telah padam untukku. Ia tak pernah membelai cinta itu, dia sibuk dengan para semak belukarnya. Menghabiskan waktu berpuluh-puluh jam dengannya, dan tak pernah tersisa untukku. Aku bagai patung, tak dianggap, tak berharga, dan selalu diacuhkan.
Semak belukar telah mengubahnya. Mengubah kehidupannya yang sederhana menjadi gemerlap. Mengubah cintanya, bahkan memadamkan kobarannya. Pengganggu.
Ahh sudahlah. Persetan dengan mereka semua. Aku cukup muak. Sangat bahkan. Biarkan saja mereka bermain ria, kini aku tak peduli. Biarkan saja pemilik mata hitam bulat itu bangun sendiri dari mimpinya yang salah. Aku cukup lelah membangunkannya. Dan biarkan saja para semak belukar terhantam oleh semak belukar lain. Karma masih berlaku, dan akan terus berlaku. Entah sampai kapan.
Jam berdentang pukul 22.00 WIB, waktu yang tepat untuk terlelap dan menghela panjang nafas didada yang penuh berisi gempita para semak belukar.

Rabu, 27 Agustus 2014

Stasiun dalam Genggaman Kenangan


Matahari kini mengurung diri untuk menampakkan kilaunya. Hanya ada segelintir awan gelap ganas menyelubungi langit yang biasanya membiru. Beribu buliran air dimuntahkan dari bibir langit yang kelu. Kini, muntahan demi muntahannya semakin menggila. Tampak kerumunan zat cair berwarna cokelat pucat tercerai berai di jalanan yang terlindas oleh ribuan roda secara keji.
           Aku mengingatnya. Duduk termangu bersama seorang lelaki, menghindari kejamnya hujaman tangisan awan di kesunyian stasiun. Lalu meratapi jalinan rel yang berdesis jika dilalui gerbong-gerbong raksasa. Yah, hujan tak pernah menyurutkan kita dari kesenangan gila semacam ini.
“Kamu suka aku ajak kesini enggak yang?” tanyanya memecah dinginnya embusan angin yang dipeluk rintikan hujan.
“Suka, sayang. Selalu suka kalau kamu yang mengajak.” suara parauku terdengar bak penusuk sunyinya rel yang belum tersentuh roda lokomotif sejak tadi.
Ada sepasang mata hitam yang membulat dengan sejuta kilauan terpancar ketika tatapannya membelaiku. Lalu bibir tipis yang selalu melukis berbagai lengkung senyuman renyah. Telinga kecilnya selalu siap dengan lontaran cerita rumit yang bergelut dari sudut bibir merah muda ini. Lalu sepasang tangan khas yang lembut tak luput menggenggam, merangkul, dan memeluk.
Awan telah usai menitikkan air dipelupuk matanya. Ia kembali dengan mata membengkak kepelukan langit biru muda. Senyum tipis nan manis awan yang berwarna merekah berseri-seri. Kakunya angin bertiup terhempas oleh sengatan panas yang menjalar keras dari hulu menuju hilir.
Kaki jenjangnya perlahan menjauhiku. Entah mengapa ia bergerak menuju kerumunan gerbong yang selalu tertidur pulas. Mungkin saja ia sedang mengecek apakah gerbong itu sakit demam atau flu hebat. Atau bahkan dia akan merawatnya; menyelimuti dan menyuap makanan lalu memberinya obat. Ahh, kekasih hatinya saja tak pernah diperlakukan seistimewa itu, memangnya siapa dan apa hubungannya; gerbong lusuh berwarna cokelat yang tak berpembuluh.
Mata yang menuntun kaki ini melangkah mendekatinya. Ada sesuatu yang menggelitik relung, memanjakan hati dan membuai jiwa. Aku tak paham dengan apa yang telah membuatku linglung bak tertanam gendam atau semacamnya. Rasanya, aku bagai magnet berkutub utara dan dia adalah magnet berkutub selatan yang saling tarik menarik. Ialah sebab dari rasa mabuk yang memiringkan langkah, lalu perlahan mengganggu kinerja otakku.
Dari sudut rel kaku nan dingin terbentang, tertangkap gemerlap lampu sebuah benda yang berlarian diatas rel yang berdecak mesra. Embusan beku angin sedang bercumbu dengan bekas tangisan miris awan dihantam suara kereta yang menggelegar. Gerbong-gerbong tidur berguncang rindu dengan rel manis disisi bawahnya. 
“Yee, kereta!” ungkapnya dengan keluguan kertas putih yang belum tergores tinta manapun.
“Hore, itu kereta apa ya?”suara lantangku berusaha melawan decitan rel yang dipeluk lokomotif hijau.
         Kalimat yang terlontar dari bibir tipis nan manis menuturkan tuturan rumit serumit transformasi galileo. Nada lembut yang menjalar ke telinga, dan otak berkecamuk dengan pemahamanku. Ia merogoh saku celana, dan mengeluarkan ponsel yang setia menemaninya. Kamera itu ia condongkan menuju lokomotif yang sedang melaju, lalu terekam kereta berselancar di garis-garis ombak rel. Puluhan video yang ia simpan, dan isinya selalu saja sama; kereta. Rupanya ia amat sakau dengan benda unik yang menggelar rel tersebut.
      Yah, kini dia berubah. Dari sisi dan sudut penglihatanku, dia benar-benar berubah. Kita tak lagi seperti dulu, seperti pengagum berat lokomotif beroda entah jumlahnya berapa. Ia dengan seribu satu macam kesibukan, dan aku selalu terabaikan. Tak lagi tersisa waktu untukku, untuk kereta, bahkan untuk menyajikan padaku sekelumit kabar. 
       Jalan berbatu seakan membangunkan lamunanku tentang sepatnya masa lalu. Helaan nafas yang tertahan pada bibir kelu mampu membuyarkan ratapanku yang sembari tadi meratapi jalanan yang cukup lenggang. Tak terasa bis yang ku tumpangi telah mengantar menuju istanaku. Beberapa langkah tegapku mampu mencapai kerajaan megah dimataku. Singgasanaku adalah tempat yang senantiasa ku nanti. Dengan merebahkan diri, ku ambil ponsel dari saku rok. Bunyi tuts ponsel memecah kedinginan suasana yang amat senyap.
“Sayang, lagi apa?” tanyaku dengan harap yang meletup-letup.
Terbuang sudah satu jam, ia tetap membisu dalam Blackberry Messenger dengan seribu tanya yang mendera jiwaku. Kembali ku manjakan papan tombol yang selalu menghitam.
“Lagi bobok ya yang?”
Disini, aku masih membuang waktu untuk menanti, seperti pungguk yang merindukan bulan. Dengan seragam yang masih melekat ditubuh dan ponsel yang senantiasa terjamah olehku. Tanganku seolah tergelitik oleh relung untuk mengetik satu atau dua patah kata untuknya.
“PING!!!”
“Yang?”
Ia kembali tanpa kebisuan semata setelah penantianku yang berlangsung selama sepuluh menit.
“Aku lagi sibuk, jangan ganggu” jawab pahit sang pemilik bibir manis itu. 
       Aku tak paham dengan makna kata “sibuk” yang amat ia puja. Seringkali ia begitu; mematahkan, merobek, mencabik-cabik bahkan mengiris-iris hatiku dengan “kesibukan” dirinya hingga mengabaikan berbagai hal, membentangkan jarak, serta membagi perhatian. Setega itukah manusia menawan sepertinya? Apakah semua manusia sehebat dia selalu menyakitkan, tak punya hati dan perasaan? Rumit.
____________________________________________ 
      Malam sunyi sepi tanpa kabarnya adalah hal yang teramat biasa bagiku. Seharusnya malam ini menjelma bagai malam penuh bintang dan bulan yang menaburkan kilauan pancaran cinta dalam hubungan kita. Yah, esok hari, Minggu, 14 Desember 2003 adalah hari anniversary 2 tahun bersamanya. Bersamanya, waktu bagai roda lokomotif yang melaju kencang, dan berakhir lambat ketika melintasi masa jenuh. Secercah harap terihlami oleh Tuhan. Ponsel lalu ku gapai.
“Halo. Yang, besok sore ke stasiun yuk? Aku rindu lihat gerbong lari-lari!” kataku dengan harap yang menggebu-gebu.
“Besok? Aku sibuk, enggak bisa” bantahnya.
“Ayolah yang, sekali waktu. Aku cuman minta kamu temenin doing, ya?” pinta harapku.
“Aku gabisa, aku sibuk beneran!” nada tinggi mulai terdengar dari sudut suara disana.
“Ayo yang, plis aku mohon sama kamu. Ya?” permohonan terakhir terlontar dari hati.
“Enggak bisa!” bentaknya.
“Hmm, yasudah yang” desis kekalahan dan kesedihanku.
     Tanpa hati dia menutup telepon-ku. Sepertinya ia telah dibutakan oleh gemerlap kesibukan yang membuatnya terlena ketika menyelamnya. Seakan dia bermasa bodoh dengan apa yang sepantasnya ia perhatikan. Dan seakan aku menjelma menjadi bukan siapa-siapa atau unit terpenting dalam hidupnya.
     Air dipelupuk mata yang gerimis mulai menghujami pipi lengkungku. Perlahan tetes demi tetes mulai menderas seiring dengan awan diluar sana yang juga memuntahkan perasaannya. Aku hanyut dalam balutan luka tertancap duri beracun yang ku peluk. Sekarat rasanya. Sakit, teramat sakit. Haruskah hari bahagia ternodai oleh egomu yang semakin meluap ? Basahnya bantalku senantiasa menemani malam lelapku yang berat.
____________________________________________ 
     Ada sesuatu yang menggelitik jiwa dan menggerogoti hati yang rindu ketika sore menjelang. Rindu yang membalut kita, kenangan dan kereta. Ada saja bisikan-bisikan angan untuk mengajaknya mengkuduskan hari bahagia ini. Sepertinya itu tak kan pernah terwujud, mengingat perlakuan dingin nan keras yang ia selalu lemparkan padaku.
     Kunang-kunang sepertinya bersemayam di pikiranku. Aku tahu! Jika rindu tak berkesudahan mengerang, maka akan ku temukan sumber rindu itu. Sumber rindu terpendam adalah jutaan roda lokomotif, ratusan anak rel yang berjajar, dan puluhan gerbong tidur yang senantiasa menemani, dahulu. Langkah mantapku terpatri menuju kamar mandi untuk bergegas menjelma bak elok rupanya. Seusainya, kaki ini melangkah menjauhi singgasana dan menemukan wanita setengah baya; mama sedang menyiram tanaman.
“Ma, aku pergi dulu ya?”ucapku sembari mengenakan sepatu.
“Ehhh mau kemana nak?” tanya wanita setengah baya yang selalu cantik dimataku.
“Pergi ma, nanti kalau ada yang nyariin bilang aja aku pergi ya ma, kira-kira lama ma…” sambungku.
“Yasudah, hati-hati nak” desisnya sembari mengulurkan tangan yang khas.  Ciumanku tepat mendarat di punggung tangannya.
     Langkah gopohku sepertinya mampu meredam waktu perjalanan menuju sang kereta kenangan. Dewi fortuna sepetinya sedang berpihak padaku. Bis telah tersedia untuk mengantarkanku, tanpa ba-bi-bu aku memasukinya. Jalanan terliat lenggang, tak butuh waktu yang lama untuk sampai menuju kenanganku.
       Aku berpijak pada permukaan bumi berbatuan yang di tempelkan rel manis yang mengantri. Yah, aku telah sampai di surga kenangan; tempat mengenang dan dikenang. Dua tahun silam ia mematri janji sucinya disini, stasiun sunyi. Disaksikan pula gerbong tidur yang tak kunjung terbangun. Lalu jembatan layang yang senantiasa meramaikan suasana misteri rel.
       Ada banyak kereta yang ku tangkap sore ini, baik dengan mata maupun kamera. Decitan rindu rel mampu meredam sedikit amarahku tentang egonya yang ia pertahankan. Gerbong yang tak kunjung terbangun seringkali ku belai. Lalu pusat stasiun yang senantiasa merayakan nyepi tiap harinya.
      Mentari kini mulai meredupkan diri. Tersisa awan putih menggumpal yang melukis seberkas tangisan miris diabaikan mentari yang sibuk dengan urusannya. Untung saja senja segera memeluk sang awan dan menghiburnya sejenak. Dengan tergopoh – gopoh, aku segera kembali ke istanaku. Saat kaki bergetar untuk melangkah, saat itu juga rel membuat aku terperosok dibebatuan. Metode perabaan sepertinya efektif untuk menemukan kacamata-ku yang menghilang entah kemana. Sebuah frekuensi suara samar yang tak jelas kemudian tertangkap oleh kedua telinga rumitku. Aku enggan untuk memfokuskan diri dengan suara-suara yang bergelut dengan desiran angin.
     Tuhan menuntun tanganku untuk menggali kacamata-ku. Dan benar saja, tangan tuntunan malaikat yang diutus Tuhan mampu mengembalikan kacamata-ku. Ketika aku menggapai dan mengenakannya, mataku seakan menangkap sesuatu sedang mengintaiku. Sesuatu yang amat ku puja dan ku banggakan. Sesuatu yang senantiasa ternantikan olehku. Dan kini ia berdiri tepat 5 jengkal di mataku. Kereta.
    Aku membiaskan gemerlap senyum terhadapnya, membiaskan senyum terakhirku untuknya disenja bahagia. Dan senyum terakhirku untuk selamanya.

SELESAI

Rabu, 16 Juli 2014

Ini Tentang Kita

Ini tentang kita, bukan tentang keluarga, teman, atau bahkan orang lain. Ini tentang kita, bukan cerita fiksi seperti dongeng Cinderella dan novel-novel Teenlit semata. Ini tentang kita, tentang seorang adam dan hawa yang saling berlari, mencari dan dicari, lalu pada akhirnya bertemu. Ini tentang kita, tentang seorang anak manusia yang telah bertemu dengan tulang rusuknya diantara jutaan tulang rusuk yang ada. Ini tentang kita…
            Semuanya selalu berawal dari pertemuan, bahkan cinta. Aku bertemu denganmu, ketika kami duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA). Semua terlihat dan terasa biasa pada awalnya ; semester pertama. Teman biasa, yah memang teman biasa. Di masa itu, ketika hati masih terbalut luka dan perih, ketika itu juga aku takut ; takut untuk kembali membuka hati, takut terabaikan untuk kedua kali.
            Beberapa bulan kemudian, entah hati ini kembali terbalut luka dengan bualan janji-janji manis yang tak terhitung jumlahnya. Entah ini sudah ke sekian kalinya ia merusak, mematahkan, mencabik-cabik, bahkan mengiris-iris hatiku yang berisi tentangnya. Aku menyerah, rasanya perjuanganku harus berakhir. Aku lelah, dan rasanya aku hampa.
 Kehampaanku adalah celah yang kamu manfaatkan dengan cukup baik. Kehadiranmu sepertinya memang tepat. Dari percakapan di BBM tentang tugas, pr, bahkan ulangan sukses membuatku jatuh cinta diam-diam. Diam-diam pula aku memperhatikanmu, dari sudut yang kamu takkan pernah ketahui. Dari mengintip twitter dan facebookmu, membaca tweet dan status-mu, bahkan melihat foto-fotomu yang terpampang di facebook.
Terima kasih moodbooster buat soal ekonominya hehe :3
Ahh moodbooster tuu :3
Ada suatu hipotesis yang dapat aku petik dari beberapa tweet-mu, aku rasa kamu merasakan hal abstrak yang juga aku rasakan ; cinta. Tapi aku masih ragu, dan tak sepenuhnya yakin dengan hipotesisku. Akan tetapi aku harus bereksperimen dan membuktikan hipotesisku. Yah, harus.
            Satu bulan berlalu, hipotesisku kini menemui titik terang. Perhatian dan perlakuanmu kepadaku yang berlebihan memberiku petunjuk. Dari yang biasanya cuek, lalu berubah perhatian. Dari yang biasanya pendiam, lalu berubah cerewet. Indah.
            Dan hipotesisku kini hampir seutuhnya berubah menjadi suatu kesimpulan. Ketika sebuah tugas dari sebuah mata pelajaran yang mengharuskan berkelompok dan membuat video musikalisasi puisi, tanpa ba-bi-bu lagi aku langsung merekrutmu sebelum yang lain mendahului. Dari awal, menurutku, kamulah satu-satunya anggota paling bersemangat dengan ide yang menggebu-gebu, entah karena kamu menyukai tugas ini atau mungkin menyukai kehadiranku sebagai patner kerjamu. Kehadiranku? Bagaimana mungkin? Ahh itu hanya fatamorgana-ku semata.
            Menurutku, tugas ini cukup banyak menyita waktu; waktu untuk kita berduaan. Dari yang mulanya pergi mengambil adegan baca puisi di sebuah pantai, dan merasakan pertama kali boncengan denganmu. Dag-dig-dug. Salah tingkah. Gugup. Ahh, lengkap rasanya.
Yang kedua, ketika rekaman baca puisi, aku berangkat dengan menerjang hujan, berharap sesampai di rumah temanku tidak hujan kembali, mengingat jarak rumahku dengan temanku cukup jauh, mungkin saja berbeda. Sesampaiku dirumahnya, aku mendapati kenyataan bahwa temanku sedang keluar untuk menyelesaikan beberapa urusan. Menunggu, aku sabar untuk menanti. Walaupun dalam kenyataan yang sebenarnya aku tak pernah bisa menunggu. Seperti menunggu kepastian akan dirinya.
Bel motormu mampu membuyarkan segala lamunanku yang berisi masa lalu. Kulihat bibirmu yang tipis melengkungkan seberkas senyuman hangat kepadaku. Langkahan kakimu mendekat, senada dengan degupan jantungku yang berdetak tak karuan. Perbincangan kita dimulai dengan ucapan hai yang terlontar dari bibirku yang teramat sekarat ingin selalu menyapamu.
Temanku telah selesai dari urusannya dan telah kembali ke rumahnya; dan ini artinya waktu berdua dengannya telah usai, dan berganti dengan waktu menyelesaikan tugas. Kamu lagi lagi membuat jantung ini tak hentinya berdegup kencang. Ketika rekaman, kamu berada disisiku untuk duduk, dekat, teramat dekat, hingga tak ada jarak terbentang diantara kita. Tuntutan tugas, han ; batinku. Lalu aku diam-diam memperhatikanmu ketika kamu merekam suara temanku, dan aku mendapati posisimu yang tidak sedekat denganku tadi. Mungkinkah ini salah satu modus-mu? Aku mendengus kecil.
Sepertinya langit kembali tidak bersahabat denganku ; hujan kembali ; disaat waktunya kembali ke rumah masing-masing. Dan disaat itu pula, kamu dengan indahnya bersedia mengantarkanku pulang; maksudku mengantarkanku sampai pemberhentian angkutan. Jas hujan yang kamu kenakan tak cukup untuk menutupiku dari hujan yang melanda sore itu. Bahkan untuk menutupi seluruh kepalaku saja tak mampu ; kecuali jika posisiku mendekat bahkan menempel denganmu. Ahh, aku bukan siapa-siapamu. Aku tak mungkin berbuat selancang itu. Sudahlah, aku tetap menikmati masa ini, menikmati dinginnya hujan yang menusuk tulang bersamamu. Walaupun dalam kenyataan yang sebenarnya, hanya aku yang merasakan tetesan hujan yang menghujam ini.
            Setelah tugas musikalisasi tersebut terselesaikan, kamu lebih sering menghubungiku, memberiku  perhatian lebih, hingga menunjukkan berbagai sikapmu yang teramat manis kepadaku. Beberapa kata yang tersirat didalam percakapanmu adalah kesimpulan terselubung yang menguatkan hipotesisku sebelumnya.
            -Kamu juga merasakan seperti yang ku rasakan, hal abstrak yang membelenggu dan mengikat hati bernama cinta-
            Kita menjalin hubungan satu tingkat lebih tinggi dari teman ataupun sahabat. Special, yah teman special. Saling mengenal dan memahami. Beberapa usaha pendekatanmu seperti mengajakku nonton ataupun lunch sukses membuatku makin menikmati kebersamaan ku denganmu. Karenamu, aku semakin yakin dan tak takut lagi untuk jatuh cinta. Dan denganmu, aku yakin luka di masa lalu akan terobati oleh kehadiranmu yang mengisi hari-hari kelamku selama ini.
            Dan pada tanggal 8 September 2013 ; malam harinya ; dengan tiba-tiba kamu menelfonku. Disudut sana terdengar jelas pertanyaan dari bibir manismu yang selama ini selalu ku nantikan.
            Han, kamu mau enggak jadi pacarku?
            Rasa-rasanya aku baru bangun dari mimpi panjangku selama ini. Cubitan lenganku terasa amat sakit menandakan aku sedang tidak bermimpi. Inilah kenyataannya. Dengan gugup karena teramat senang, aku menjawab iya perlahan. Dan mulai detik itulah, suatu hubungan percintaan dimulai, hingga kini, dan untuk selamanya.
            Ini tentang kita, tentang seberapa tangguh kita berjuang. Tentang seberapa lama kita berdekatan. Tentang seberapa kuat kita bertahan. Dan tentang seberapa hebat kita memahami. Ini tentang kita, tentang aku, tentang kamu, dan tentang kebersamaanku denganmu, Aridya Wicaksono.

Selesai