Matahari kini mengurung
diri untuk menampakkan kilaunya. Hanya ada segelintir awan gelap ganas
menyelubungi langit yang biasanya membiru. Beribu buliran air dimuntahkan dari
bibir langit yang kelu. Kini, muntahan demi muntahannya semakin menggila.
Tampak kerumunan zat cair berwarna cokelat pucat tercerai berai di jalanan yang
terlindas oleh ribuan roda secara keji.
Aku
mengingatnya. Duduk termangu bersama seorang lelaki, menghindari kejamnya
hujaman tangisan awan di kesunyian stasiun. Lalu meratapi jalinan rel yang
berdesis jika dilalui gerbong-gerbong raksasa. Yah, hujan tak pernah
menyurutkan kita dari kesenangan gila semacam ini.
“Kamu suka aku ajak kesini enggak
yang?” tanyanya memecah dinginnya embusan angin yang dipeluk rintikan hujan.
“Suka, sayang. Selalu suka kalau kamu
yang mengajak.” suara parauku terdengar bak penusuk sunyinya rel yang belum
tersentuh roda lokomotif sejak tadi.
Ada sepasang mata
hitam yang membulat dengan sejuta kilauan terpancar ketika tatapannya
membelaiku. Lalu bibir tipis yang selalu melukis berbagai lengkung senyuman
renyah. Telinga kecilnya selalu siap dengan lontaran cerita rumit yang bergelut
dari sudut bibir merah muda ini. Lalu sepasang tangan khas yang lembut tak
luput menggenggam, merangkul, dan memeluk.
Awan telah usai
menitikkan air dipelupuk matanya. Ia kembali dengan mata membengkak kepelukan
langit biru muda. Senyum tipis nan manis awan yang berwarna merekah
berseri-seri. Kakunya angin bertiup terhempas oleh sengatan panas yang menjalar
keras dari hulu menuju hilir.
Kaki jenjangnya perlahan
menjauhiku. Entah mengapa ia bergerak menuju kerumunan gerbong yang selalu
tertidur pulas. Mungkin saja ia sedang mengecek apakah gerbong itu sakit demam
atau flu hebat. Atau bahkan dia akan merawatnya; menyelimuti dan menyuap
makanan lalu memberinya obat. Ahh, kekasih hatinya saja tak pernah diperlakukan
seistimewa itu, memangnya siapa dan apa hubungannya; gerbong lusuh berwarna
cokelat yang tak berpembuluh.
Mata yang menuntun kaki ini melangkah mendekatinya. Ada sesuatu yang menggelitik relung, memanjakan hati dan membuai jiwa. Aku tak paham dengan apa yang telah membuatku linglung bak tertanam gendam atau semacamnya. Rasanya, aku bagai magnet berkutub utara dan dia adalah magnet berkutub selatan yang saling tarik menarik. Ialah sebab dari rasa mabuk yang memiringkan langkah, lalu perlahan mengganggu kinerja otakku.
Dari sudut rel kaku nan dingin terbentang, tertangkap gemerlap lampu sebuah benda yang berlarian diatas rel yang berdecak mesra. Embusan beku angin sedang bercumbu dengan bekas tangisan miris awan dihantam suara kereta yang menggelegar. Gerbong-gerbong tidur berguncang rindu dengan rel manis disisi bawahnya.
Mata yang menuntun kaki ini melangkah mendekatinya. Ada sesuatu yang menggelitik relung, memanjakan hati dan membuai jiwa. Aku tak paham dengan apa yang telah membuatku linglung bak tertanam gendam atau semacamnya. Rasanya, aku bagai magnet berkutub utara dan dia adalah magnet berkutub selatan yang saling tarik menarik. Ialah sebab dari rasa mabuk yang memiringkan langkah, lalu perlahan mengganggu kinerja otakku.
Dari sudut rel kaku nan dingin terbentang, tertangkap gemerlap lampu sebuah benda yang berlarian diatas rel yang berdecak mesra. Embusan beku angin sedang bercumbu dengan bekas tangisan miris awan dihantam suara kereta yang menggelegar. Gerbong-gerbong tidur berguncang rindu dengan rel manis disisi bawahnya.
“Yee, kereta!” ungkapnya dengan
keluguan kertas putih yang belum tergores tinta manapun.
“Hore, itu kereta apa ya?”suara
lantangku berusaha melawan decitan rel yang dipeluk lokomotif hijau.
Kalimat yang terlontar dari bibir tipis nan manis menuturkan tuturan rumit serumit transformasi galileo. Nada lembut yang menjalar ke telinga, dan otak berkecamuk dengan pemahamanku. Ia merogoh saku celana, dan mengeluarkan ponsel yang setia menemaninya. Kamera itu ia condongkan menuju lokomotif yang sedang melaju, lalu terekam kereta berselancar di garis-garis ombak rel. Puluhan video yang ia simpan, dan isinya selalu saja sama; kereta. Rupanya ia amat sakau dengan benda unik yang menggelar rel tersebut.
Kalimat yang terlontar dari bibir tipis nan manis menuturkan tuturan rumit serumit transformasi galileo. Nada lembut yang menjalar ke telinga, dan otak berkecamuk dengan pemahamanku. Ia merogoh saku celana, dan mengeluarkan ponsel yang setia menemaninya. Kamera itu ia condongkan menuju lokomotif yang sedang melaju, lalu terekam kereta berselancar di garis-garis ombak rel. Puluhan video yang ia simpan, dan isinya selalu saja sama; kereta. Rupanya ia amat sakau dengan benda unik yang menggelar rel tersebut.
Yah,
kini dia berubah. Dari sisi dan sudut penglihatanku, dia benar-benar berubah. Kita
tak lagi seperti dulu, seperti pengagum berat lokomotif beroda entah jumlahnya
berapa. Ia dengan seribu satu macam kesibukan, dan aku selalu terabaikan. Tak
lagi tersisa waktu untukku, untuk kereta, bahkan untuk menyajikan padaku sekelumit
kabar.
Jalan berbatu seakan membangunkan lamunanku tentang sepatnya masa lalu. Helaan nafas yang tertahan pada bibir kelu mampu membuyarkan ratapanku yang sembari tadi meratapi jalanan yang cukup lenggang. Tak terasa bis yang ku tumpangi telah mengantar menuju istanaku. Beberapa langkah tegapku mampu mencapai kerajaan megah dimataku. Singgasanaku adalah tempat yang senantiasa ku nanti. Dengan merebahkan diri, ku ambil ponsel dari saku rok. Bunyi tuts ponsel memecah kedinginan suasana yang amat senyap.
Jalan berbatu seakan membangunkan lamunanku tentang sepatnya masa lalu. Helaan nafas yang tertahan pada bibir kelu mampu membuyarkan ratapanku yang sembari tadi meratapi jalanan yang cukup lenggang. Tak terasa bis yang ku tumpangi telah mengantar menuju istanaku. Beberapa langkah tegapku mampu mencapai kerajaan megah dimataku. Singgasanaku adalah tempat yang senantiasa ku nanti. Dengan merebahkan diri, ku ambil ponsel dari saku rok. Bunyi tuts ponsel memecah kedinginan suasana yang amat senyap.
“Sayang, lagi apa?” tanyaku dengan
harap yang
meletup-letup.
Terbuang sudah satu jam, ia tetap
membisu dalam Blackberry Messenger dengan seribu tanya yang mendera
jiwaku. Kembali ku manjakan papan tombol yang selalu menghitam.
“Lagi bobok ya yang?”
Disini, aku masih membuang waktu untuk
menanti, seperti pungguk yang merindukan bulan. Dengan seragam yang masih melekat
ditubuh dan ponsel yang senantiasa terjamah olehku. Tanganku seolah tergelitik
oleh relung untuk mengetik satu atau dua patah kata untuknya.
“PING!!!”
“Yang?”
Ia kembali tanpa kebisuan semata
setelah penantianku yang berlangsung selama sepuluh menit.
“Aku lagi sibuk, jangan ganggu” jawab
pahit sang pemilik bibir manis itu.
Aku tak paham dengan makna kata “sibuk” yang amat ia puja. Seringkali ia begitu; mematahkan, merobek, mencabik-cabik bahkan mengiris-iris hatiku dengan “kesibukan” dirinya hingga mengabaikan berbagai hal, membentangkan jarak, serta membagi perhatian. Setega itukah manusia menawan sepertinya? Apakah semua manusia sehebat dia selalu menyakitkan, tak punya hati dan perasaan? Rumit.
Aku tak paham dengan makna kata “sibuk” yang amat ia puja. Seringkali ia begitu; mematahkan, merobek, mencabik-cabik bahkan mengiris-iris hatiku dengan “kesibukan” dirinya hingga mengabaikan berbagai hal, membentangkan jarak, serta membagi perhatian. Setega itukah manusia menawan sepertinya? Apakah semua manusia sehebat dia selalu menyakitkan, tak punya hati dan perasaan? Rumit.
____________________________________________
Malam sunyi sepi
tanpa kabarnya adalah hal yang teramat biasa bagiku. Seharusnya malam ini
menjelma bagai malam penuh bintang dan bulan yang menaburkan kilauan pancaran
cinta dalam hubungan kita. Yah, esok hari, Minggu, 14 Desember 2003 adalah hari
anniversary 2 tahun bersamanya. Bersamanya, waktu bagai roda lokomotif
yang melaju kencang, dan berakhir lambat ketika melintasi masa jenuh. Secercah
harap terihlami oleh Tuhan. Ponsel lalu ku gapai.
“Halo. Yang, besok sore ke stasiun
yuk? Aku rindu lihat gerbong lari-lari!” kataku dengan harap yang
menggebu-gebu.
“Besok? Aku sibuk, enggak bisa”
bantahnya.
“Ayolah yang, sekali waktu. Aku cuman
minta kamu temenin doing, ya?” pinta harapku.
“Aku gabisa, aku sibuk beneran!” nada
tinggi mulai terdengar dari sudut suara disana.
“Ayo yang, plis aku mohon sama kamu.
Ya?” permohonan terakhir terlontar dari hati.
“Enggak bisa!” bentaknya.
“Hmm, yasudah yang” desis kekalahan
dan kesedihanku.
Tanpa hati dia menutup telepon-ku. Sepertinya ia telah dibutakan oleh gemerlap kesibukan yang membuatnya terlena ketika menyelamnya. Seakan dia bermasa bodoh dengan apa yang sepantasnya ia perhatikan. Dan seakan aku menjelma menjadi bukan siapa-siapa atau unit terpenting dalam hidupnya.
Air dipelupuk mata yang gerimis mulai menghujami pipi lengkungku. Perlahan tetes demi tetes mulai menderas seiring dengan awan diluar sana yang juga memuntahkan perasaannya. Aku hanyut dalam balutan luka tertancap duri beracun yang ku peluk. Sekarat rasanya. Sakit, teramat sakit. Haruskah hari bahagia ternodai oleh egomu yang semakin meluap ? Basahnya bantalku senantiasa menemani malam lelapku yang berat.
Tanpa hati dia menutup telepon-ku. Sepertinya ia telah dibutakan oleh gemerlap kesibukan yang membuatnya terlena ketika menyelamnya. Seakan dia bermasa bodoh dengan apa yang sepantasnya ia perhatikan. Dan seakan aku menjelma menjadi bukan siapa-siapa atau unit terpenting dalam hidupnya.
Air dipelupuk mata yang gerimis mulai menghujami pipi lengkungku. Perlahan tetes demi tetes mulai menderas seiring dengan awan diluar sana yang juga memuntahkan perasaannya. Aku hanyut dalam balutan luka tertancap duri beracun yang ku peluk. Sekarat rasanya. Sakit, teramat sakit. Haruskah hari bahagia ternodai oleh egomu yang semakin meluap ? Basahnya bantalku senantiasa menemani malam lelapku yang berat.
____________________________________________
Ada sesuatu yang
menggelitik jiwa dan menggerogoti hati yang rindu ketika sore menjelang. Rindu
yang membalut kita, kenangan dan kereta. Ada saja bisikan-bisikan angan untuk
mengajaknya mengkuduskan hari bahagia ini. Sepertinya itu tak kan pernah
terwujud, mengingat perlakuan dingin nan keras yang ia selalu lemparkan padaku.
Kunang-kunang
sepertinya bersemayam di pikiranku. Aku tahu! Jika rindu tak berkesudahan
mengerang, maka akan ku temukan sumber rindu itu. Sumber rindu terpendam adalah
jutaan roda lokomotif, ratusan anak rel yang berjajar, dan puluhan gerbong
tidur yang senantiasa menemani, dahulu. Langkah mantapku terpatri menuju kamar
mandi untuk bergegas menjelma bak elok rupanya. Seusainya, kaki ini melangkah
menjauhi singgasana dan menemukan wanita setengah baya; mama sedang menyiram
tanaman.
“Ma, aku pergi dulu ya?”ucapku
sembari mengenakan sepatu.
“Ehhh mau kemana nak?” tanya wanita
setengah baya yang selalu cantik dimataku.
“Pergi ma, nanti kalau ada yang
nyariin bilang aja aku pergi ya ma, kira-kira lama ma…” sambungku.
“Yasudah, hati-hati nak” desisnya
sembari mengulurkan tangan yang khas.
Ciumanku tepat mendarat di punggung tangannya.
Langkah gopohku sepertinya mampu meredam waktu perjalanan menuju sang kereta kenangan. Dewi fortuna sepetinya sedang berpihak padaku. Bis telah tersedia untuk mengantarkanku, tanpa ba-bi-bu aku memasukinya. Jalanan terliat lenggang, tak butuh waktu yang lama untuk sampai menuju kenanganku.
Langkah gopohku sepertinya mampu meredam waktu perjalanan menuju sang kereta kenangan. Dewi fortuna sepetinya sedang berpihak padaku. Bis telah tersedia untuk mengantarkanku, tanpa ba-bi-bu aku memasukinya. Jalanan terliat lenggang, tak butuh waktu yang lama untuk sampai menuju kenanganku.
Aku
berpijak pada permukaan bumi berbatuan yang di tempelkan rel manis yang
mengantri. Yah, aku telah sampai di surga kenangan; tempat mengenang dan
dikenang. Dua tahun silam ia mematri janji sucinya disini, stasiun sunyi.
Disaksikan pula gerbong tidur yang tak kunjung terbangun. Lalu jembatan layang
yang senantiasa meramaikan suasana misteri rel.
Ada
banyak kereta yang ku tangkap sore ini, baik dengan mata maupun kamera. Decitan
rindu rel mampu meredam sedikit amarahku tentang egonya yang ia pertahankan.
Gerbong yang tak kunjung terbangun seringkali ku belai. Lalu pusat stasiun yang
senantiasa merayakan nyepi tiap harinya.
Mentari
kini mulai meredupkan diri. Tersisa awan putih menggumpal yang melukis seberkas
tangisan miris diabaikan mentari yang sibuk dengan urusannya. Untung saja senja
segera memeluk sang awan dan menghiburnya sejenak. Dengan tergopoh – gopoh, aku
segera kembali ke istanaku. Saat kaki bergetar untuk melangkah, saat itu juga rel
membuat aku terperosok dibebatuan. Metode perabaan sepertinya efektif untuk
menemukan kacamata-ku yang menghilang entah kemana. Sebuah
frekuensi suara samar yang tak jelas kemudian tertangkap oleh kedua telinga
rumitku. Aku enggan untuk memfokuskan diri dengan suara-suara yang bergelut
dengan desiran angin.
Tuhan menuntun
tanganku untuk menggali kacamata-ku. Dan benar saja, tangan tuntunan malaikat
yang diutus Tuhan mampu mengembalikan kacamata-ku. Ketika aku menggapai dan
mengenakannya, mataku seakan menangkap sesuatu sedang mengintaiku. Sesuatu yang
amat ku puja dan ku banggakan. Sesuatu yang senantiasa ternantikan olehku. Dan
kini ia berdiri tepat 5 jengkal di mataku. Kereta.
Aku
membiaskan gemerlap senyum terhadapnya, membiaskan senyum terakhirku untuknya
disenja bahagia. Dan senyum terakhirku untuk selamanya.
SELESAI
recommended :)
BalasHapusthank you memellll:3
Hapus