Rabu, 16 Juli 2014

Haruskah ada salah satu dari kita yang mengemis perhatian?


     Pagi ini seperti pagi-pagi dahulu. Terbangun dari mimpi terhebat dan beranjak dari tempat persinggahanku malam tadi. Dengan mata seadanya, ku lihat disudut meja tergeletak ponselku, dan aku berusaha meraih lalu melihatnya, dan tak tampak satupun message ataupun pemberitahuan disana. Aku menghela nafas. Ku letakkan ponselku disebelah tempat tidur, lalu mengadahkan tanganku, menyebut namamu dalam percakapan panjangku pada Tuhan. Berharap agar engkau sadar akan posisiku selama ini, sebagai seorang kekasihmu. Apa kataku? Seorang? Aku tak yakin dengan kata “seorang kekasih”, aku tak tahu apakah kau menjadikan aku satu-satunya seperti yang ku lakukan padamu.

       Yah, kau berubah. Dari sisi dan sudut penglihatanku, kau benar-benar berubah. Tak sama lagi. Mengabaikan berbagai hal, membentangkan jarak, serta membagi perhatian, seperti siksa yang mematahkan, merobek, mencabik-cabik bahkan mengiris-iris hatiku. Sadarkah engkau akan semua itu?
     Bodoh! Aku memang bodoh! Bodoh untuk mengemis perhatian dari seorang kekasih yang mengabaikanku. Seorang kekasih tak akan pernah membuat sang kekasih mengemis, memunguti, serta mengais perhatian padanya. Tapi mengapa ini tidak berlaku kepadamu? Apa kau cukup bermasa bodoh denganku? Tak peka, yah kau tak peka.
Menomer satukanmu sepertinya membuatku cukup terluka. Yah disaat pengabaian itu muncul, apakah aku harus menahan rasa keegoisan harga diriku untuk tidak menyapamu? Tapi bukankah lelaki yang terlebih dahulu memulai? Tuhan mungkin sedang menguji kesabaranku menunggu sapamu. Ahh tapi sampai kapan?
Cukup! Kini aku sekarat! Aku tak tahan dengan pembodohan harga diri untuk tidak menyapa terlebih dahulu. Aku harus menyapanya! Ahh, aku memutar otak untuk berfikir ulang. Bagaimana jika sapaanku diabaikan? Bagaimana jika ia tak menyukai kehadiranku? Tapi bukankah aku kekasihnya, apakah setega itu dia; akan mengabaikan dan membenci kehadiranku? Oh aku baru ingat sekarang, bukankah kehadiranku selalu ia abaikan dan aku sangat muak?
Aku mengingatnya, setiap detail demi detail. Dahulu, usahamu yang untuk ada disisiku, usahamu yang selalu memprioritaskanku, dan usaha-usaha lain yang sangat membuatku terkesan. Tapi mengapa usaha-usaha itu kini tenggelam dan nyaris tak tampak? Permainan macam apakah ini; yang tega membiarkan seorang kekasih hidup berdampingan bersama pengabaian?
        Ahh, sudahlah. Aku menyerah. Biarkan saja dia dengan seribu macam kesibukannya, dengan bermacam bentuk pengabaiannya. Aku terlalu bosan untuk diabaikan. Aku terlalu lelah untuk mengharapkan dirimu mengerti kondisiku ketika kau abaikan. Dan aku terlalu yakin terhadap dirimu.
Tuhan tidak pernah tidur dan buta, diri-Nya akan melihat mana yang pantas dan mana yang tidak pantas untuk disandingkan. Aku akan tetap mendoakanmu yang terbaik, walaupun dengan kenyataan yang sama aku tidak mendapatkan yang terbaik; pengabaian dan menomer sekiankan.
            Helaan nafas terdengar disudut ruang kamarku, dentuman jam terdengar menunjukkan pukul enam telah membuyarkanku dari permainan gila bernama pengabaian seorang kekasih hati.

“Pilihlah dia yang mencintai dan mengutamakanmu, daripada dia yang kau cintai tapi menjadikanmu pengemis perhatian.”

3 komentar:

  1. wanita yang baik tidak akan menjadikan dirinya sebagai pengemis perhatian mah mbak hana :)

    BalasHapus
  2. pria yang baik juga tidak akan menjadikan wanitanya sebagai pengemis perhatian mbak noza, dia akan menempatkan dirinya sebagai seorang kekasih, yang perhatian, yang selalu ada meskipun tak selamanya ada:)

    BalasHapus